Webinar Peluang Kerja Diaspora Kesehatan Di Tanah Air: Indonesia Memanggil
WeShine: Webinar series on health and nutrition empowerment
PPI Jepang dan RS Hermina Group Selenggarakan Webinar bertema ‘Peluang Kerja bagi Diaspora di Tanah Air: Indonesia Memanggil’
Sabtu (02/12) PPI Jepang mengadakan Talkshow webinar yang diselenggarakan melalui ZOOM bertema “Peluang Kerja bagi Diaspora di Tanah Air: Indonesia Memanggil”. Talkshow ini diselenggarakan melalui kerjasama dengan RS Hermina Group dan bertujuan untuk mengundang tenaga kerja diaspora serta warga negara asing untuk menyumbang keterampilan mereka di Indonesia.
Talkshow ini dihadiri oleh Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL(K) selaku Ketua Dewan Pengawas BPJS dan alumni PPI Jepang, Dr. Hasmoro, Sp. AN-KIC, MHA, MM selaku Presiden Direktur RS Hermina Group, dan dr. Muhammad Dwi Wahyu selaku mahasiswa S3 Niigata University. Selain itu, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin juga mempersiapkan pesan lewat video bagi para peserta webinar.
Webinar ini dibuka dengan sambutan dari Ketua PPI Jepang, Fadlyanshah Farid. Beliau menyampaikan harapan besar yang dilontarkan kepada para stakeholder untuk bisa merangkul diaspora kesehatan agar tetap diberi ruang secara terbuka untuk bisa Kembali berkerja di Indonesia.
Acara ini dilanjutkan dengan ucapan oleh Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bertema “Dukungan Kemenkes untuk Diaspora Kesehatan”. Beliau memaparkan bahwa rasio antara tenaga kerja Kesehatan dan masyarakat Indonesia masih belum ideal. Oleh karena itu, Bapak Menteri Budi Gunadi Sadikin mengajak tenaga kerja kesehatan diaspora untuk turut ikut serta dalam menyelesaikan salah satu masalah kesehatan Indonesia.
Sesi pertama webinar ini dimulai dengan pemaparan materi oleh Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D, Sp. THT-KL(K). Prof. Abdul Kadir menyampaikan materi bertema peluang tenaga kerja diaspora dan asing di Indonesia. Salah satu isu yang beliau angkat adalah kurangnya jumlah Dokter Spesialis di Indonesia dan dampak negatifnya kepada mutu rumah sakit di Indonesia serta kesehatan masyarakat RI secara kesuluruhan. Selain itu, masalah ini diperparah oleh disparitas penempatan Dokter Spesialis tersebut dimana rasio Dokter Spesialis di kota besar seperti DKI Jakarta dan Bali jauh lebih tinggi daripada wilayah pedalaman. Karena kurangnya Dokter Spesialis di Indonesia, peluang bagi dokter spesialis diaspora untuk berkerja di Indonesia menjadi sangat tinggi. Tujuan dari mengundang dokter spesialis diaspora ini adalah untuk memenuhi demand yang tidak sesuai dengan supply dokter di saat ini. Prof. Abdul Kadir juga menuturkan bahwa proses adaptasi bagi dokter diaspora akan dipermudah juga dengan bantuan dari Kementrian Kesehatan.
Berikutnya, sesi acara webinar ini diikuti dengan presentasi oleh dr. Muhammad Dwi Wahyu. Muhammad Dwi Wahyu berbagi tentang pengalamannya melanjuti jenjang pendidikannya di Jepang sebagai mahasiswa S3 di Niigata University. Muhammad Dwi Wahyu bercerita tentang berbagai beasiswa yang bisa diraih untuk belajar ke Jepang seperti beasiswa MEXT/Monbukagakusho yang ditawarkan pemerintahan Jepang, serta manfaatnya untuk mengembangkan karir dan wawasan diri pula. Muhammad Dwi Wahyu juga menceritakan tentang berbagai tantangan dari kuliah di luar negeri seperti culture shock dan kesulitan membuat teman dengan warga lokal.
Terakhir, sesi ini ditutupi dengan presentasi oleh Dr. Hasmoro, Sp. AN-KCIC, MHA, MM bertemakan peluang kerja dokter spesialis diaspora di RS Hermina. Sebelumnya, proses transisi untuk berpraktek di Indonesia cukup sulit bagi tenaga kerja kesehatan diaspora, namun sekarang adaptasi bagi tenaga kerja kesehatan diaspora telah dipermudah oleh pemerintahan Indonesia. Dr. Hasmoro mengundang diaspora untuk melakukan Pendidikan spesialis untuk transisi di RS Hermina. RS Hermina menargetkan untuk membuka lebih banyak Rumah Sakit diluar Jawa, salah satunya di IKN, Kalimantan. Ini dikarenakan saat ini, hanya 30% dari semua Rumah Sakit Hermina terletak di luar Jawa. Diharpkan dengan merekrut lebih banyak dokter spesialis, kesenjangan dokter di wilayah selain Jawa dapat dikurangi.
Oleh: Redaktur PPI Jepang
