0

Kisah Inspiratif Al Bahits Annef: Dari Depok ke Nagoya dengan Beasiswa Bergengsi Pemerintah Jepang

NAGOYA, PPI JEPANG – Dalam perjalanan hidup, saya memulai langkah dengan alasan yang sederhana. Namun seiring waktu, jalan yang saya tempuh membawa saya ke arah yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Nama saya Al Bahits Annef, atau yang lebih dikenal sebagai Alba. Saya berasal dari Depok, Jawa Barat, dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di Jepang melalui beasiswa bergengsi dari pemerintah Jepang, yaitu MEXT Scholarship. 

Saya tumbuh di lingkungan yang menuntut kemandirian sejak usia dini. Sejak kecil, saya menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus, terlebih lagi dalam hal ekonomi. Kesenjangan yang saya lihat antara kondisi Indonesia dan negara-negara maju menjadi pemicu untuk bercita-cita lebih tinggi—keluar dari zona nyaman dan berani mencari peluang di luar negeri. 

Dengan keyakinan itu, saya memilih untuk belajar Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Pilihan ini bukan semata karena reputasi kampus, melainkan karena daya tarik kata “internasional” yang menyarankan kemungkinan melintasi batas negara dan budaya. Awalnya saya cukup terkejut karena jurusan ini lebih banyak membahas isu politik global. Namun, dalam prosesnya, saya justru tertarik dengan aspek perdagangan internasional dan kerjasama ekonomi antarnegara. Minat itu kemudian berkembang menjadi arah karir yang saya pilih.

Saya menyelesaikan studi sarjana dengan predikat summa cum laude dan IPK 3.92. Empat tahun yang penuh pembelajaran, tidak hanya soal akademik, tapi juga tentang membentuk cara pandang dan tujuan hidup. Dari situ, saya mulai membidik panggung global sebagai langkah selanjutnya.

Selepas lulus, saya langsung bekerja penuh waktu selama satu setengah tahun, sambil menjalani pekerjaan paruh waktu untuk menabung dan membiayai persiapan studi lanjut. Di tengah kesibukan itu, impian untuk belajar ke luar negeri tetap menjadi prioritas. Beasiswa MEXT dari pemerintah Jepang menjadi target utama saya. 

Saya tidak hanya mengandalkan panduan resmi, tetapi juga menggali pengalaman dari mereka yang sudah lebih dulu berhasil—melalui blog, media sosial, hingga diskusi di LinkedIn. Setiap informasi saya pelajari, setiap strategi saya rancang dengan cermat. 

Dengan persiapan yang matang dan semangat yang konsisten, saya berhasil memperoleh beasiswa MEXT pada percobaan pertama. Saya memulai sebagai Research Student di bawah bimbingan profesor di Jepang, lalu melanjutkan ke jenjang magister di Graduate School of International Development (GSID), Nagoya University. Saya memilih GSID karena programnya yang berorientasi global dan jejaring internasional yang kuat, yang sejalan dengan arah karir yang saya cita-citakan.

Tinggal di Jepang tentu tidak selalu mudah. Ada tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan bahasa, budaya, bahkan iklim yang berbeda drastis. Untuk bertahan dan berkembang, saya berusaha menjadikan setiap interaksi sebagai latihan adaptasi—mulai dari berbelanja hingga bekerja paruh waktu dalam bahasa Jepang.

Di dunia akademik, saya memaksimalkan waktu saya bersama profesor dan rekan-rekan lintas negara untuk terus mengembangkan riset dan memperluas wawasan. Saya percaya bahwa keberhasilan di luar negeri tidak hanya bergantung pada kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan untuk membaur dan belajar dari lingkungan sekitar. 

Di sela kesibukan studi, saya menemukan keseimbangan melalui hobi saya: fotografi dan perjalanan. Menjelajahi alam Jepang dan mengabadikannya lewat kamera—baik digital maupun film—menjadi cara saya untuk melepas penat dan menemukan kembali makna dari perjalanan ini. 

Meskipun saat ini saya sedang membangun pengalaman dan karier di luar negeri, hati saya tetap tertambat pada tanah air. Saya memiliki impian untuk kembali ke Indonesia dan membangun bisnis ekspor yang dapat membantu UMKM lokal menembus pasar internasional. 

Saya ingin produk-produk buatan anak bangsa bisa bersaing di kancah global, menciptakan nilai tambah, dan membuka lapangan kerja. Bagi saya, pendidikan dan pengalaman di luar negeri hanyalah batu loncatan untuk bisa berkontribusi lebih besar bagi masyarakat Indonesia. 

Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, hal yang perlu disiapkan adalah tekad yang kuat dan izin dari orang tua. Studi di luar negeri bukan perjalanan singkat. Dibutuhkan alasan dan motivasi yang jelas sebagai bahan bakar agar kita bisa terus melangkah, bahkan saat menghadapi tantangan dengan niat yang matang, kita tidak akan mudah ragu atau mempertanyakan apakah jalan yng kita pilih sudah benar. 

Untuk teman-teman yang ingin mencoba beasiswa tapi masih kurang percaya diri, pesan saya sederhana: coba saja dulu. Terkadang, yang membedakan antara berhasil atau tidak hanyalah keberanian untuk memulai. Percayalah, rezeki setiap orang sudah diatur—tugas kita adalah berusaha sebaik mungkin. 

Perjalanan saya dari Depok ke Jepang adalah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang. Justru, bisa menjadi awal dari langkah besar menuju masa depan yang lebih cerah.