Pada tanggal 28 Februari 2020, telah dilaksanakan FGD pertama dalam kepengurusan PPI Jepang 2019 – 2020 yang merupakan kolaborasi PPI Jepang – PPI Kanto – PPI Todai (Persatuan Pelajar Indonesia Tokyo University) berkemas FGD PPI Jepang x Todai Talk. FGD bertema kesehatan mental, berfokus pada kesadaran akan kesehatan mental: Apa sih Mental Health Awareness? Para narasumber berafiliasi dengan Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, yaitu Karolina Lamtiur Dalimunthe, S.Psi, M.Psi. dan Syifa Adilla, S.Psi, serta dimoderatori oleh Ratu Bintang dari PPI Kanto.
Hasil Diskusi FGD
Mental health awareness terdiri dari dua pengertian sisi yang berbeda, yang pertama adalah kesadaran mental untuk hidup sehat dan kemampuan untuk mendeteksi batas kemampuan diri sehingga dapat mencegah terjadinya stres, dan yang kedua adalah menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara copingtersendiri dan berusaha jangan sampai diri sendiri menjadi penyebab stres untuk orang lain.
Di tanah air maupun di luar negeri, lingkungan akademis dapat turut mempengaruhi keadaan kesehatan mental. Beban akademis para pelajar dan mahasiswa berbeda satu sama lain, misalnya pada pelajar dan mahasiswa yang menuntut ilmu di luar negeri, terdapat beban kendala bahasa yang mungkin berbeda dan sulit dipelajari sehingga mengalami kesulitan untuk mengikuti kegiatan akademik. Terdapat pula perbedaan budaya yang mengakibatkan culture shock, serta cenderung sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Ekspektasi sebelum dan sesudah tiba di luar negeri yang mungkin berbeda turut pula mempengaruhi beban tersebut. Dengan beban akademis yang ada, sudah sepantasnya institusi perguruan tinggi menyediakan sarana dan prasarana untuk menangani masalah beban akademis para pelajar dan mahasiswa, seperti misalnya menyediakan layanan bimbingan konseling dengan konselor profesional yang dapat menjamin kerahasiaan serta campaign untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental.
Kesadaran akan batasan kemampuan diri dan bahwa diri sedang tidak dalam keadaan baik penting untuk menjaga kesehatan mental. Sedapat mungkin, hindari kondisi tersebut dengan melakukan beberapa cara pencegahan sebagai upaya menjaga kesehatan mental sebagai berikut:
- Positive emotion, sesuai dengan namanya yaitu mengembangkan emosi positif. Terdengar tidak mudah, tetapi sudah banyak cara untuk membentuk emosi positif sehingga carilah cara yang paling sesuai dengan diri sendiri.
- Self-care, rutinitas perawatan diri secara fisik, dengan harapan akan memperbaiki kondisi fisik yang secara otomatis akan turut meningkatkan mood dan memperbaiki kondisi mental.
- Positive coping, yaitu cara menangani stres yang baik dan bermanfaat. Sebagai contoh, bermain game. Akan tetapi, apabila berlebihan berubah menjadi negative coping. Serupa dengan pembentukan positive emotion, pengaturan positive coping juga tergantung masing – masing individu sehingga disarankan untuk bereksperimen dengan metode positive coping yang paling sesuai.
..sudah sepantasnya institusi perguruan tinggi menyediakan sarana dan prasarana untuk menangani masalah beban akademis para pelajar dan mahasiswa, seperti misalnya menyediakan layanan bimbingan konseling dengan konselor profesional yang dapat menjamin kerahasiaan serta campaign untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan mental.
Apabila diri sedang tidak dalam keadaan baik, ada beberapa respon yang cenderung menunjukkan perubahan seorang individu dari keseharian mereka, antara lain:
- Respon fisiologis, seperti seorang individu tanpa disadari merasa gatal – gatal dan menggaruk – garuk, respon emosional, seperti tetiba sering marah dan sedih, respon perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial,
- Respon cognitive appraisal, seperti terus – menerus memikirkan hal yang sudah dilakukan di masa lampau atau melupakan sama sekali apa yang sudah terjadi beberapa waktu yang lalu. Respon – respon ini mungkin sulit untuk disadari oleh diri sendiri karena pada umumnya orang – orang di sekitar individu yang menyadari perubahan tersebut.
Dengan mental health awareness, selain menyadari keadaan mental diri sendiri, juga menyadari perubahan dalam keseharian seorang individu, sehingga apabila perubahan tersebut dirasa sudah tidak berkembang ke arah yang baik, pendekatan terhadap individu yang bersangkutan dapat dilakukan dengan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi. Nyatakan perubahan tersebut dengan sedemikian rupa, tanpa harus menghakimi apakah ada suatu hal yang salah dengan invidu tersebut.
Apabila sudah terjadi respon – respon tersebut, baik disadari sendiri maupun disadari oleh orang – orang sekitar, harus segera ditangani agar tidak berdampak lebih buruk menjadi mental illness. Berikut adalah alternatif penanganan agar stres tidak menimbulkan respons negatif yang berkepanjangan.
- Berceritalah. Apabila dirasa sulit untuk menemukan orang lain untuk bercerita masalah pribadi, salurkan cerita tersebut dalam media lain, seperti forum anonim online atau berbicara sendiri di depan cermin. Dengan bercerita, diri akan menyadari bahwa ada keganjalan dan berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dengan mengeluarkan sesuatu yang mengganjal tersebut.
- Retreat, atau istirahat sejenak. Sayangi kondisi fisik terlebih dahulu dan kondisi mental pun akan menyertai.
- Trial and error self-care. Carilah cara self-care yang paling nyaman dan aman. Jangan pernah merasa terbebani untuk melakukan self-caretertentu dan keharusan untuk melakukannya secara rutin. Dalam melakukan self-care, yang terpenting adalah mengenai well-being, bagaimana self-care tersebut memberikan perasaan sejahtera dan nyaman, selanjutnya mengenai happiness, kebahagiaan setelah kenyamanan tercapai, dan terakhir adalah satisfaction, yakni kepuasan setelah kebahagiaan tercapai.
Dengan bercerita, diri akan menyadari bahwa ada keganjalan dan berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dengan mengeluarkan sesuatu yang mengganjal tersebut.
Kesimpulan
Bagi pelajar dan mahasiswa yang belajar dan hidup di luar negeri dengan mandiri tidaklah mudah. Hidup sendirian, culture shock, maupun tuntutan akademik memberikan dinamika tersendiri bagi kesehatan mental. Terlepas dari berbagai hal yang dapat dilakukan oleh individu, mulai dari mengenali diri sendiri hingga melakukan self-care, kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama, dan termasuk institusi akademik. Melawan stigma dalam mencari bantuan layanan konseling juga bisa menjadi kunci. Sebagai sesama pelajar dan mahasiswa asing yang sedang menimba ilmu di negeri orang, jangan lupa untuk mengecek keadaan teman-teman kita baik. Tanyakan kabar dan berikan ruang untuk di dengar mendengar. Akhir kata, mungkin sudah tiba saatnya kita merevisi membalik pepatah lama; di dalam tubuh yang kuat, terdapat jiwa yang sehat.
Dengan jiwa yang sehat, tubuh pun menjadi kuat.
Kontributor: Indri Kartiko Sari (Jumonji University) dan Ratu Bintang (Tokyo International University)
Editor: Elza Firdiani Sofia (Tohoku University)

terimakasih infonya keren
terimakasih infonya keren mantap