TOKYO, PPI JEPANG – Pendidikan bagi perempuan sering kali dipenuhi dengan berbagai tantangan, terutama ketika harus menyeimbangkan antara impian akademik dan peran dalam keluarga. Namun, bagiku, menjadi istri dan ibu bukanlah penghalang untuk terus belajar.
Hallo teman-teman! Aku Tasha Stevany dan biasa dipanggil Taca, perempuan asal Sukabumi yang menempuh studi pascasarjana di Kyoto University dan Alhamdulillah sudah lulus beberapa waktu yang lalu.
Perjalanan Menuju Jepang
Sebelum melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana ini, aku menyelesaikan pendidikan S1-ku di Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan berkarier di industri pertambangan sebagai Environmental Permit Coordinator. Ketertarikanku untuk belajar lebih dalam tentang lingkungan menjadi bekal awal bagiku untuk melamar beasiswa Asian Development Bank – Japan Scholarship Program (ADB-JSP), sebuah program yang dikhususkan bagi mereka yang telah memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun.
Menunggu kesempatan mendapatkan beasiswa ini bukanlah hal mudah. Tapi aku memiliki prinsip, “Success loves preparation” dan “Amat victoria curam”, yang artinya “kesuksesan itu mencintai persiapan”. Untuk itulah, aku mempersiapkan diriku dengan sebaik-baiknya. Hingga akhirnya aku diterima di Kyoto University untuk program Environmental Management dengan beasiswa ADB-JSP.
Menyeimbangkan Peran sebagai Ibu dan Mahasiswa
Aku sangat bahagia karena impianku untuk melanjutkan studi di luar negeri terbuka lebar setelah mendapatkan beasiswa tersebut. Namun, hanya beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Jepang, aku mendapat kabar bahwa aku sedang mengandung anak pertamaku. Sempat bingung dan ragu untuk tetap berangkat studi atau sebaiknya menunda terlebih dahulu. Dengan tekad yang kuat, akhirnya aku memutuskan, hal ini bukanlah halangan, melainkan dorongan untuk semakin berjuang. Aku tetap melangkah maju ke Jepang dengan semangat yang tak surut sedikitpun!
Saat itu, ketika datang ke Jepang aku sudah hamil lima bulan. Di tengah break kuliah aku pernah check up kehamilan dan melahirkan pasca ujian. Pengalaman yang tak terlupakan bagiku. Pasca kelahiran anakku, kehidupanku semakin kompleks, antara menjadi istri, ibu, dan mahasiswi. Ketiganya harus aku jalani, tak ada yang harus aku tinggalkan, aku hanya harus bisa menyeimbangkannya saja. Aku bersyukur mendapat dukungan penuh dari suamiku. Ia turut berbagi tugas dalam mengurus anak di sela kesibukan kerja part-time dan remote-nya.
Meskipun demikian, waktu yang tersedia tetap terbatas. Aku mengesampingkan keinginan untuk aktif dalam organisasi dan menjelajahi Jepang lebih jauh. Walaupun demikian bukan berarti aku tidak mendapatkan pengalaman menarik loh. bagiku, pengalaman menjadi ibu di tengah kesibukan akademik justru memberiku banyak pelajaran berharga.
Perjuangan sebagai Mahasiswa Muslim di Jepang
Selain tantangan akademik dan peran sebagai ibu, aku juga menghadapi tantangan sebagai seorang Muslim di Jepang. Menjalankan ibadah di tengah jadwal perkuliahan yang padat bukanlah hal mudah, beruntung, fleksibilitas sistem S2 di Kyoto University memungkinkanku untuk memilih mata kuliah yang tidak terlalu membebani agar tetap dapat menjalankan shalat dengan baik. Tantangan lain adalah makanan halal. Demi menjaga prinsip yang diajarkan suamiku, aku memilih untuk memasak sendiri setiap hari dan hanya makan di luar jika restoran tersebut memiliki sertifikasi halal atau Muslim-friendly.
Namun, di balik berbagai tantangan itu, ada momen-momen yang justru memperkuat keyakinanku. Bulan Ramadhan, misalnya, menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagiku. Di tengah kesibukan akademik dan mengurus anak, aku justru merasa lebih produktif di bulan suci ini. Komunitas Muslim dan mahasiswa Indonesia di Jepang menjadi pilar utama yang mendukung perjalanan studiku. Mereka tidak hanya berbagi informasi seputar makanan halal, tetapi juga memberikan dukungan moral yang sangat berarti dalam kehidupanku di Jepang.
“Perempuan Tidak Terbatas: Bebas untuk Berkarya”
Dalam perjalananku, tak sedikit aku menemui orang-orang yang meragukan diriku dalam menyelesaikan studi sambil mengurus anak. Banyak yang beranggapan bahwa setelah menjadi ibu, seorang perempuan akan sulit untuk berkembang dalam pendidikan dan karier. Namun, aku membuktikan sebaliknya, aku bisa melakukannya!
Bagiku, perjalanan kita sebagai ibu dan menjadi pengejar mimpi memang tidak mudah, tapi suatu hari nanti pengalaman kita bisa menjadi pengajar terhebat untuk anak kita. Perempuan pada akhirnya tidak terbatas, kita bebas untuk berkarya. Bagiku, dengan tekad, persiapan, dan dukungan yang tepat, tidak ada yang tidak mungkin, bahkan bagi seorang ibu yang sedang mengemban peran ganda sebagai mahasiswa di negeri asing.
