31 Januari 2019
Permasalahan dalam bidang pendidikan dan kesehatan masyarakat yang merata pada tiap wilayah di Indonesia, tidak terkecuali wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) adalah tidak semua anak mendapatkan pendidikan yang layak. Kali ini, Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPIJ) menilik salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter pendidikan anak yaitu keluarga, terutama peran ibu melalui diskusi online yang diadakan pada tanggal 19 Desember 2018 dalam rangka memperingati Hari Ibu.
Peran perempuan dalam kesehatan keluarga acap kali diabaikan karena dianggap sebagai hal yang sudah semestinya dilakukan. Padahal, perempuan juga merupakan penentu kualitas suatu bangsa, karena generasi yang sehat dan unggul berasal dari ibu yang sehat unggul pula. Ibu dalam keluarga berperan sebagai role model, motivator, serta memiliki kewajiban untuk memastikan pendidikan anak-anaknya.
Riset menunjukkan tingkat pendidikan ibu berbanding lurus dengan kesehatan anak. Semakin rendah pendidikan seorang ibu, maka semakin tinggi pula tingkat kematian anak. Laporan dari UNESCO pada tahun 2016 menunjukkan bahwa apabila ibu bisa membaca, maka kemungkinan anak untuk hidup lebih dari umur lima tahun meningkat sebesar 50% dan setiap tambahan satu tahun pendidikan formal bagi perempuan dapat meningkatkan harapan hidup balitanya sebesar 5-10%. Tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia memang menjadi momok tersendiri bagi Indonesia, terutama di wilayah-wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Dalam istilah dunia kebidanan sendiri, kematian ibu umumnya dikaitkan dengan istilah “4 terlalu 3 terlambat”, yaitu:1
- Terlalu muda (<20 tahun).
- Terlalu tua (>35 tahun).
- Terlalu sering atau banyak anak (>3 anak).
- Terlalu dekat jarak kelahirannya (< 2 tahun).
- Terlambat mengambil keputusan.
- Terlambat sampai di fasilitas kesehatan.
- Terlambat mendapatkan pertolongan paling kecil sekalipun, karena sudah terlambat sampai sehingga dalam penanganannya pun terlambat juga.
Berdasarkan laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada tahun 2018, Indonesia diuntungkan dengan tingginya persentase usia produktif, yang akan ditambah dengan bonus demografi lagi nantinya dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun mendatang. Tentunya agar bonus demografi ini nantinya tidak berbalik menjadi masalah, Indonesia harus memastikan agar penduduk usia kerja sepuluh tahun mendatang dapat menjadi generasi yang unggul. Hal ini dapat diawali dengan meningkatkan kualitas kesehatan perempuan Indonesia, khususnya di wilayah-wilayah dengan fasilitas kesehatan yang masih sulit dijangkau. Tidak meratanya akses kesehatan dan kurangnya pengetahuan mengenai penanganan kesehatan menjadi salah satu faktor tingginya angka kematian ibu dan anak di Indonesia.
Peran ibu dalam peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan anak sudah tidak dapat lagi dianggap sebagai hal yang remeh dan maklum saja (taken for granted). Dalam FGD Online yang dilaksanakan oleh PPIJ pada tanggal 19 Desember 2018, ibu Gita Nirmala Sari, kandidat PhD dari Osaka University, selaku narasumber memaparkan bahwa peran perempuan dalam pendidikan dan kesehatan keluarga dapat dibagi menjadi tiga, yakni ASAH, ASIH, dan ASUH. ASAH yaitu merangsang dan mengasah segala kemampuan yang dimiliki anak dan memunculkan bakat secara konsisten dan berkesinambungan (pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan bakat anak). ASIH adalah mempererat hubungan batin antara anak dengan ibu, ayah, dan saudara. ASUH sendiri merupakan pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan keluarga sehari-hari. Agar ibu dapat melaksanakan perannya dalam peningkatan kesehatan dan pendidikan keluarga, pendidikan dasar mengenai kesehatan ibu dan anak sebaiknya dapat dimulai sedini mungkin. Sebagai contoh, remaja putri dapat saja terobsesi dengan body image yang menurut mereka ideal, padahal secara kesehatan dapat membahayakan mereka sendiri. Diet dan pola makan yang tidak sehat dapat mengakibatkan anemia dan meningkatkan risiko penyakit lain. Lebih jauh lagi, perempuan yang mengidap anemia pada usia subur kemudian mengandung juga dapat membahayakan sang janin. Seperti efek domino, hal ini akan berlanjut hingga akhirnya bayi yang lahir juga akhirnya menjadi bayi yang tidak sehat.
Ibu berperan penting dalam mencetak generasi unggul bangsa karena dari ibu yang cerdas akan tumbuh pula seorang anak yang cerdas, begitu pula ibu yang sehat akan menumbuhkan anak yang sehat. Perluasan peran seorang Ibu sangat berpengaruh signifikan terhadap pemerataan pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, berikut beberapa langkah yang dapat seorang ibu lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan calon anak:
- Persiapan bekal pendidikan bagi ibu. Tak dapat dipungkiri bahwa pengetahuan seorang ibu berpengaruh besar terhadap perkembangan anak.
- Peran ibu bahkan dimulai saat mempersiapkan kehamilan dengan asupan gizi yang baik.
- Seribu hari pertama anak merupakan periode emas dalam pembentukan kecerdasan yang dapat ibu optimalkan.
- Menjamin pendidikan pra-sekolah dan sekolah dengan saksama.
- Menjamin gizi anak selama masa pertumbuhan karena asupan memengaruhi daya pikir
- Memberikan anak contoh dan lingkungan yang kondusif sehingga terus termotivasi berprestasi dalam pendidikan dan hidup secara sehat.
Melalui diskusi ini, kami berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada hal-hal superfisial, namun juga masalah pendidikan untuk Ibu yang sudah mengakar ini untuk menjamin masa depan Indonesia yang lebih cerah. Melihat masa pemerintahan saat ini yang akan selesai pada tahun 2019, ada baiknya kita melihat ke belakang, apakah target pemerintah dalam program yang dicanangkan terkait dengan pendidikan karakter seorang ibu sudah mencapai target? Ataukah masih hanya dipandang sebelah mata?
Salam persatuan Indonesia!
<Penulis artikel>
Didukung oleh: Biro Kajian dan Aksi Strategis Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPI Jepang)
