0

Kisah Sherry Adelia Natsir: Dari Self-funding Hingga Menerima Penghargaan Hiroshima University Excellent Scholarship Award

TOKYO, PPI JEPANG – Hai, namaku Sherry Adelia Natsir, atau biasa dipanggil Dea. Saat ini, aku sedang menempuh pendidikan doktoral (Ph.D.) di Hiroshima University, Jepang. Aku berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, dan perjalananku di dunia akademik penuh dengan tantangan sekaligus pengalaman berharga. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Hasanuddin (Unhas), aku melanjutkan studi master di Griffith University, Brisbane, Australia, sebelum akhirnya menetap di Jepang bersama suami dan dua putri kecilku. Perjalananku menempuh pendidikan di luar negeri sebenarnya sudah dimulai sejak SMA, saat aku mengikuti program pertukaran pelajar selama satu tahun di Sekolah Sint-Joseph Instituut, Kontich, Belgia.

Prinsip Hidup, Inspirasi, dan Masa Depan 

Sejak remaja, aku telah terbiasa menikmati kebersamaan dengan keluarga dan teman-teman melalui traveling dan makan bersama. Selain itu, aku juga aktif berolahraga untuk menjaga kesehatanku. Prinsip hidup yang selalu aku pegang teguh adalah “memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya”, karena aku percaya bahwa kesempatan tidak datang dua kali. 

Dalam perjalanan hidup seseorang, ada sosok yang sering kali menjadi panutan dan sumber inspirasi. Bagiku, sosok itu adalah ibuku sendiri. Ia adalah seorang dosen, tapi ia tidak hanya cemerlang di dunia akademik, tetapi juga mampu menjalankan perannya sebagai ibu dengan penuh kasih dan keseimbangan. Dari ibuku, aku belajar bahwa pendidikan adalah perjalanan seumur hidup, dan menjadi seorang ibu tidak berarti harus mengorbankan impian serta pengembangan diri seseorang. 

Perjuangan Studi di Jepang dan Culture Shock yang Ditemui 

Menempuh studi doktoral di Jepang bukanlah perjalanan yang mudah. Awalnya, aku berstatus self-funding, namun aku mendapatkan berbagai bantuan yang meringankan biaya studiku, termasuk penghargaan Hiroshima University Excellent Scholarship Award. Sebelum berkuliah di Jepang, aku telah memiliki pengalaman sebagai dosen di Makassar, dan saat ini sedang menjalani tugas belajar. 

Selain itu, tinggal di Jepang membawa tantangan tersendiri bagiku, terutama dalam hal bahasa dan sistem penulisan yang berbeda. Saat pertama kali pindah ke sini, aku menghadapi kondisi yang cukup sulit karena pandemi COVID-19 serta baru saja melahirkan. Namun, aku berhasil beradaptasi dengan cepat dan mendapatkan dukungan dari lingkungan akademik serta komunitas Indonesia dan Muslim di Hiroshima. 

Menyeimbangkan Keluarga dan Studi Sebagai Mahasiswi Muslim 

Tentunya menjalani peran sebagai ibu dan mahasiswa bukanlah hal yang mudah. Dengan suamiku yang juga sibuk di kampus, aku harus pintar membagi waktu. Biasanya, rutinitasku dimulai dengan mengantar anak ke sekolah dan melanjutkan aktivitas akademik. Malam hari, setelah anak-anak tidur, aku kembali bekerja menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan penelitian. 

Sebagai seorang ibu Muslim di Jepang, aku merasakan toleransi yang tinggi dari masyarakat setempat. Sensei dan teman-temanku sangat menghargai kebutuhanku, seperti menyediakan makanan halal saat makan bersama dan memberi ruang untuk beribadah. Meski demikian, keterbatasan fasilitas ibadah di kampus dan lingkungan sekitar tetap menjadi tantangan yang harus aku hadapi. Dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan pun, aku tetap berusaha memaksimalkan ibadahku di tengah kesibukan akademik dan keluarga. Alhamdulillah aku aktif dalam komunitas Muslimah Hiroshima yang menjadi support system penting bagi perjalanan spiritual dan akademikku.

Menguatkan diri dalam Mengejar Pendidikan Setelah Menjadi Ibu

Tantangan akan selalu ada teman-teman, dalam kondisi apapun. Percaya pada kemampuan diri bahwa kita bisa adalah kuncinya. Jika kita percaya pada diri sendiri, maka kita akan menemukan cara untuk menghadapinya. Jangan ragu untuk meminta bantuan, baik dari pasangan, keluarga, atau teman, karena perjalanan ini tidak harus dijalani sendirian. Kelola waktu dengan baik, tetap menjaga mental health dengan tetap memiliki waktu beristirahat atau melakukan hal yang difavoritkan (me time) , dan percaya bahwa setiap langkah kecil yang kita ambil adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik—baik untuk diri sendiri maupun keluarga. Yang penting, nikmati prosesnya dan jangan terlalu keras pada diri sendiri. 

Kepada pemuda dan pelajar yang mau studi di jepang 

Untuk pelajar yang ingin melanjutkan studi  terutama yang memiliki kondisi seperti saya, menjalankan double -peran, tolong! jangan takut untuk bermimpi besar dan mengejar pendidikan setinggi mungkin. Perjalanan mungkin tidak selalu mudah, akan ada tantangan dan rintangan, tapi jangan pernah menyerah. Kelilingi diri dengan lingkungan yang mendukung, tetap disiplin, dan jangan ragu untuk keluar dari zona nyaman. 

Pendidikan adalah investasi terbaik untuk masa depan terutama contoh yang paling ngefek kepada anak anak jika Ibunya sendiri yang melakukan, jadi manfaatkan setiap kesempatan belajar dengan sebaik-baiknya. Sebagai ibu, kita adalah role model utama bagi anak-anak kita. Mereka melihat dan meniru apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita katakan. Itulah mengapa melanjutkan pendidikan setelah memiliki anak bukan hanya tentang meraih mimpi pribadi, tetapi juga tentang memberikan contoh nyata bahwa belajar itu penting dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berkembang. Dengan menempuh pendidikan, kita menunjukkan kepada anak-anak bahwa kerja keras, disiplin, dan semangat untuk terus belajar adalah kunci menuju masa depan yang lebih baik.