0

Kisah Inspiratif Fathya Aully Zelinda: Jatuh Bangun di Jepang, Hingga Belajar Artinya “Hidup”

PPI JEPANG – Setiap mahasiswa yang merantau, ada kisah perjuangan dan pembelajaran hidup yang tak ternilai harganya. Hal ini dapat dipetik dari pengalaman Fathya Aully Zelinda, seorang mahasiswa International Relations (Hubungan Internasional/HI) tahun ketiga di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. Keberanian dirinya dalam melangkah, menghantarkannya pada pelajaran “hidup” yang luar biasa. 

Ingin memahami dunia secara lebih luas adalah motivasi terbesarnya menempuh pendidikan di luar negeri. “Ada begitu banyak hal yang belum aku lihat di luar tempat tinggalku,” ungkap Fathya. Bahkan, hal ini juga yang mendasari dirinya memilih HI sebagai labuhan mimpinya. Tak hanya itu, ketertarikannya terhadap industri, kebijakan publik, bisnis, dan budaya pop Jepang memperkuat niatnya untuk belajar di negeri matahari terbit ini. Kini, dirinya menikmati setiap detik proses yang ia jalani. 

Tantangan dan Pelajaran Hidup

Walaupun demikian, kisahnya bukan tanpa hambatan. Selama tiga tahun hidup di Jepang, perempuan asal Tangerang ini mengalami jatuh bangun sebelum akhirnya mampu beradaptasi. Pada awal masa studinya, Fathya sempat merasa homesick dan kesulitan beradaptasi, bahkan dengan komunitas mahasiswa Indonesia itu sendiri. Pasalnya, ia merasa cara bicaranya cenderung formal. Hal itu membuat dirinya lebih leluasa berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Halangan serupa juga ia rasakan kala ia berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang di tempat kerja. Kini, ia merasa sudah sangat beradaptasi. “Now that I’ve adapted I don’t feel homesick anymore,” tegasnya. 

Menyeimbangkan kegiatan baito (kerja paruh waktu) dan urusan akademik sehari-hari tersebut membuat dirinya belajar tentang disiplin, bertanggung jawab, menghargai waktu, dan pentingnya memiliki kesadaran diri yang tinggi. Selain itu, lingkungan internasional APU yang beragam, memotivasinya untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dan menghargai perbedaan. “Karena itu, aku jadi harus bisa taking accountability atas diri sendiri, mengerti perbedaan diri sendiri dengan orang lain”.  

Menjadi Pemimpin dan Profesional

Selain aktif dalam dunia akademis, Fathya juga terlibat dalam berbagai organisasi kampus, seperti RITMUN (Ritsumeikan APU Model United Nations), FLAG (Fellow Advisory Group), dan menjadi pendiri sebuah organisasi yang menghubungkan mahasiswa APU dengan komunitas kreatif di Beppu, Kuri Creaxel. Dari pengalaman kepemimpinan tersebut, ia belajar pentingnya menjaga kesehatan mental, membangun hubungan baik dengan rekan kerja, serta menjadi pemimpin yang inspiratif bagi timnya. “Saya percaya, jika saya tidak bisa memimpin diri sendiri, bagaimana saya bisa memimpin orang lain?” ungkapnya. 

Tak hanya itu, pengalaman kerja paruh waktu sebagai pengajar Bahasa Inggris membentuk cara pandangnya terhadap dunia profesional. “Orang Jepang sangat menghargai perencanaan dan profesionalisme. Mereka tidak takut menerima kritik selama itu membangun,” katanya. Dari pengalamannya, Kak Fathya belajar pentingnya perencanaan yang matang, komunikasi yang efektif dalam tim, dan sikap terbuka untuk terus belajar.

Melihat Masa Depan dengan Lebih Terbuka

Studi di Jepang memberikan dampak besar bagi cara pandang Fathya terhadap dunia. Ia merasa menjadi pribadi yang lebih terbuka, tangguh, dan mandiri. Ia juga menyadari bahwa hidup adalah tentang bagaimana kita mengambil tanggung jawab atas keputusan dan tindakan kita sendiri. Ke depannya, Fathya berencana untuk melanjutkan studi S2 di Jepang atau Amerika Serikat dengan fokus pada ekonomi politik. Ia juga tertarik untuk bekerja di sektor supply chain dan manajemen. 

Bagi siapapun yang masih ragu untuk menempuh pendidikan di luar negeri, ia berpesan, jadilah berani dalam mengambil keputusan besar. “Ini hidupmu, dan kamu yang harus memutuskan jalannya. Jangan takut untuk bermimpi besar dan mengekspresikan mimpimu kepada orang lain. Dengan begitu, peluang untuk meraihnya akan semakin terbuka.”

Kisah Kak Fathya adalah bukti nyata bahwa merantau dan menghadapi tantangan bisa menjadi wadah besar untuk tumbuh. Dari perjuangan hingga keberhasilan, semuanya adalah bagian dari perjalanan hidup yang membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan siap menghadapi dunia.