PPI Jepang mengadakan Webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 bertema “Restorasi Lahan dan Transisi Energi Sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim” bersama IPB dan Sekolah Vokasi
Sabtu (8/6) PPI Jepang mengadakan webinar Hari Lingkungan Hidup Sedunia bertema “Restorasi Lahan dan Transisi Energi Sebagai Upaya Mitigasi Perubahan Iklim” yang diadakan dalam rangka Hari Lingkungan Hidup yang ditetapkan pada tanggal 5 Juni. PPI Jepang mengundang pembicara dari berbagai instansi untuk membagikan ilmu dan ekspertis untuk mencapai transisi energi ‘net 0 emissions’ bagi Indonesia yang sejalan dengan Paris Agreement. Webinar ini dibawakan dengan pematerian dari Bapak Marjuki, M.Si. Plt. selaku kepala Pusat Layanan Iklim Terapan BMKG, Dr. Beatan Rahmawati ST. M.Si selaku Kaprodi Teknik Manajemen Lingkungan SV Universitas IPB, Bapak Muhammad Zahrul Muttaqien, PhD dari Atase Kehutanan Kedutaan Besar Republik Indonesia Tokyo, dan Prof. Muhammad Aziz, PhD dari Universitas Tokyo. Webinar ini dimoderasikan oleh Kepala Biro LHK PPI Jepang, Bapak Septian Fauzi Dwi S.
Sesi pertama Webinar dimuali dengan pembawaan Bapak Marjuki, M.Si. Plt dari BMKG mengenai tren perubahan iklim di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa periode 2015-2023 merupakan sembilan tahun terpanas dalam sejarah. Selain itu, peristiwa peningkatan suhu dan paras laut, menurunnya kualitas udara, dan melelehnya es di Puncak Jaya menunjukkan tingkat pemanasan global yang dirasakan di Indonesia. Untuk melakukan kegiatan monitoring pemanasan global, BMKG memiliki stasiun pengamatan yang tersebar dari Sumatra sampai Papua. Data ini juga dijadikan referensi untuk riset skala nasional maupun internasional.
Sesi kedua dilanjutkan dengan presentasi dari Dr. Beatan Rahmawati ST. M.Si dari Institut Pertanian Bogor. Materi yang disampaikan beliau berisi dengan berbagai dampak buruk dari pemanasan global bagi Indonesia. Menurut Dr. Beatan, peningkatan suhu sebesar 1.5 C° dapat mengakibatkan pencairan gletser di seluruh dunia, kelangkaan air bagi 350 juta orang, serta 14% spesies darat menghadapi resiko kepunahan tinggi. Dampak negatif pemanasan global dapat dirasakan juga di kehidupan keseharian. Salah satu contoh dari itu adalah peningkatan peristiwa cuaca ekstrim, seperti suhu yang fluktuasi secara drastic dalam satu hari atau cuaca terik yang diikuti hujan lebat. Selain itu, menurut Dr. Beatan, Sebagian besar petani yang diwawancarai beliau setuju bahwa perubahan iklim merupakan faktor besar dalam kegagalan panen mereka.
Webinar ini dilanjutkan dengan pembawaan materi dari Bapak Muhammad Zahrul Muttaqien, PhD dari Atase Kehutanan KBRI yang merupakan ahli di bidang perhutanan. Bapak Zahrul menjelaskan bahwa hutan memiliki peran penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon, dan karena Indonesia memiliki salah satu hutan tropis terbesar sedunia, pemulihan hutan yang rusak karena aktifitas manusia menjadi prioritas negara. Komitmen Indonesia FOLU Net Sink 2030 menargetkan penurunan GRK (Gas Rumah Kaca) sebanyak -140 juta ton CO2e pada tahun 2030, menjadikan Indonesia sebagai penyerap bersih karbon. Oleh karena itu, menurut Bapak Zahrul, restorasi hutan dan reforestasi dapat membantu Indonesia mencapai target tersebut.
Pembicara terakhir webinar ini adalah Dr. Muhammad Aziz yang merupakan dosen di University of Tokyo dan ahli dalam energi terbarukan (renewable energy) dan hidrogen. Dr. Aziz menjelaskan bagaimana Indonesia dapat mencapai dekarbonisasi yang berkelanjutan untuk lingkungan dan ekonomi, terutama dengan cara eksplorasi sumber energi alternatif menggunakan teknologi baru. Menurut Dr. Aziz, mencapai target net zero emissions akan sangat sulit bagi Indonesia, tetapi mencapai pengelolaan karbon yang terkontrol dan tersikulasi (energy efficiency) bisa dilakukan. Untuk mencapai itu, Indonesia perlu mengeksplorasi berbagai strategi transisi seperti sumber energi terbarukan, pajak karbon serta kebijakan lainnya, dan juga sumber energi yang non-karbon seperti hidrogen dan ammonia.
Sesi diharapkan dapat bermafaat bagi mahasiswa yang bertetap di Jepang maupun di Indonesia yang tertarik akan isu pemanasan global dan perkembangan berkelanjutan, serta kebijakan yang dapat dilakukan untuk mengahadapi permasalahan ini di Indonesia.
