KOBE, PPI JEPANG – Dini Nur Hakiki, seorang dosen dan mahasiswa doktoral di Graduate School of Agricultural Science, Kobe University, telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia akademik. Lahir di Pasuruan, Jawa Timur, ia menghabiskan masa SMP dan SMA di Sidoarjo sebelum melanjutkan studi S1 dan S2 di IPB University, mengambil jurusan Teknologi Industri Pertanian dan Teknologi Pascapanen. Setelah lulus, ia mengabdikan diri sebagai dosen di beberapa universitas, hingga akhirnya bergabung dengan Universitas Terbuka di Tangerang Selatan pada 2019.
Dini selalu memiliki keinginan untuk melanjutkan studi hingga S3, tetapi kesibukan kerja dan kehidupan keluarga sempat membuatnya menunda rencana tersebut. Namun, dengan dorongan dari institusi tempatnya bekerja dan dukungan penuh dari keluarga, ia akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa MEXT dari pemerintah Jepang. Jalan menuju beasiswa ini tidak mudah—Dini harus berkali-kali mengikuti tes IELTS dan mengalami banyak kegagalan dalam aplikasi beasiswa sebelumnya. Namun, prinsip hidupnya untuk tidak menyerah pada mimpi membuatnya terus berjuang.
Adaptasi dan Tantangan Hidup di Jepang
Menjalani studi di Jepang membawa berbagai tantangan, terutama dalam hal budaya akademik. Dini menyadari bahwa mahasiswa Jepang sangat teliti dalam persiapan sebelum memulai sesuatu, berbeda dengan kebiasaannya yang lebih cenderung mencoba terlebih dahulu dan memperbaiki jika ada kesalahan. Ia juga harus beradaptasi dengan budaya “ganbatte”, di mana kerja keras menjadi prioritas utama, sering kali membuat keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi menjadi tantangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, Dini menghadapi keterbatasan makanan halal dan tantangan musim dingin yang panjang. Beruntung, universitasnya menyediakan kantin halal, sehingga ia tidak perlu khawatir saat makan siang. Selain itu, ia juga harus menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai ibu dan mahasiswa pascasarjana. Membagi waktu antara penelitian, keluarga, dan tanggung jawab akademik bukanlah hal yang mudah. Setiap pagi, ia menyiapkan makanan untuk keluarga sebelum mengantar anaknya ke sekolah, lalu menghabiskan waktu di laboratorium hingga malam hari. Akhir pekan menjadi waktu khusus untuk keluarga, meskipun terkadang ia harus lembur untuk persiapan konferensi atau seminar.
Dukungan dari suami dan komunitas sangat membantunya dalam menjalani kehidupan di Jepang. Suaminya menjadi support system utama yang membantunya menghadapi tantangan, termasuk saat ia harus berjauhan dari anak dan suami selama enam bulan pertama di Jepang. Komunitas PPI Kobe dan komunitas Muslim di Jepang juga berperan besar dalam memberikan dukungan sosial, terutama dalam menjalankan ibadah dan menjaga keseimbangan spiritual di lingkungan yang berbeda.
Mimpi dan Harapan
Sebagai seorang akademisi, Dini bercita-cita menjadi profesor di bidang teknologi pascapanen, dengan fokus pada inovasi untuk mengurangi kehilangan pangan setelah panen. Ia ingin berkontribusi dalam pengembangan teknologi pangan di Indonesia serta mendidik mahasiswa agar dapat menerapkan ilmunya dalam dunia nyata. Selain itu, di tingkat personal, ia ingin terus mendukung keluarganya dalam menjalani kehidupan yang bahagia dan bermanfaat bagi masyarakat.
Untuk para ibu yang ingin melanjutkan studi, Dini berpesan bahwa mengenali diri sendiri adalah langkah pertama sebelum memutuskan waktu yang tepat untuk mengambil studi lanjut. Restu dan dukungan keluarga juga menjadi kunci utama dalam menjalani perjuangan ini. Sementara bagi pelajar dan pemuda yang ingin menempuh studi di Jepang, ia menyarankan untuk tidak menyia-nyiakan peluang yang ada, karena kesempatan seperti ini mungkin tidak datang dua kali.
Dari perjalanan hidupnya, Dini Nur Hakiki membuktikan bahwa dengan ketekunan, dukungan keluarga, dan niat yang kuat, segala tantangan bisa dihadapi dan mimpi bisa terwujud.
