PPI JEPANG – Xeva Al Gazel atau yang akrab dipanggil Gazel adalah anak pertama dari dua bersaudara yang sedang menempuh pendidikan di negeri sakura, Jepang. Ia berasal dari keluarga yang akrab dengan dunia hiburan. Hal itu membuatnya tumbuh akrab dalam nuansa kreativitas. Tak heran jika pria kelahiran Tangerang Selatan ini punya segudang bakat yang memukau. Bercita-cita menjadi aktor terkenal, Gazel kini secara perlahan telah berhasil membuktikan talentanya itu.
Ia sangat gemar bernyanyi dan menulis lagu. Bahkan 64.409 pendengar di Spotify telah ia catatkan. Tak hanya itu, lagunya yang berjudul “Just A Dream” sudah diputar lebih dari 1.700.000 kali. Sembari menekuni bakatnya tersebut, Gazel kini sedang menempuh pendidikan S1 di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) dengan jurusan Culture, Society, and Media (CSM).
Motivasi yang Membentuk Pilihan
Pada awalnya, Gazel berencana menempuh pendidikan S1 di Negeri Gingseng, namun karena proses yang memakan waktu cukup lama, ia akhirnya memutuskan untuk mendaftar ke Ritsumeikan APU. “Saya sudah pernah mengunjungi Jepang sebelumnya dan jatuh cinta dengan budayanya,” ucap Gazel. Ketertarikannya pada Jepang diperkuat oleh kesukaannya terhadap makanan dan sifat individualis masyarakat Jepang.
Keputusannya itu terbukti tepat. Lingkungan multikultural APU, dengan mahasiswa dari lebih dari 50 negara, memberinya peluang untuk memperluas jaringan dan relasi internasional. “Atmosfer di sini sangat mendukung, dan saya bisa belajar dari banyak perspektif baru,” tambah Gazel.
Adaptasi di Negeri Sakura
Saat pertama kali tiba di Jepang, Gazel menghadapi tantangan adaptasi, terutama dengan budaya yang sangat berbeda dari Indonesia. Salah satu “culture shock” yang mendalam baginya yaitu terkait sulitnya membangun hubungan yang mendalam dengan orang Jepang. Selain itu, sistem pendidikan yang berbeda dari Indonesia juga menjadi tantangannya. “Kuliah di sini lebih menuntut kemampuan belajar mandiri, tapi untungnya saya banyak mendapat dukungan dari teman-teman,” ujarnya.
Kehidupan sehari-hari di Jepang pun memberikan pelajaran baru bagi Gazel. Dari mengatur pembayaran hingga belajar mengatur waktu antara kuliah dan hobi bermusik, semua pengalaman ini membentuk kedewasaannya. Tantangan lain yang ia alami adalah mencari tempat untuk ibadah. Terkadang ia harus menyesuaikan jadwal dengan perkuliahan, baru bisa beribadah.
Mengintegrasikan Musik dan Akademik
Meski sibuk dengan urusan akademik, Gazel tetap meluangkan waktu untuk bermusik. “Saya memanfaatkan akhir pekan dan malam hari untuk ngulik musik,” jelasnya. Inspirasi bermusik juga datang dari budaya Jepang, terutama dari genre city pop yang ia gemari. “Budaya Jepang punya pengaruh besar, terutama dalam aspek fashion dan musik. Saya bahkan mulai mengoleksi vinyl,” tambahnya dengan antusias.
Walaupun belum bergabung dengan komunitas musik kampus, Gazel aktif dalam kegiatan seni budaya, terutama di APUINA, organisasi mahasiswa Indonesia di Ritsumeikan APU. Ia berkontribusi dalam pembuatan musik untuk acara besar seperti Grand Show, Indonesia Tour, dan juga tampil dalam berbagai pertunjukan seni.
Pengalaman Tak Terlupakan
Di tengah kesibukannya, Gazel tak lupa mengeksplore Jepang. Pada Februari 2024, ia dan teman-temannya mengunjungi Osaka dan Kyoto. Baginya, pengalaman itu menjadi hal yang sangat berkesan dalam hidupnya. “Itu adalah pengalaman pertama saya mengorganisasi perjalanan tanpa keluarga, dan rasanya sangat memuaskan,” ungkapnya.
Mimpi dan Harapan di Masa Depan
Setelah menyelesaikan studinya, Gazel berencana untuk melanjutkan karir di Jepang sebelum akhirnya kembali ke Indonesia untuk menekuni hobinya dalam bermusik. Walaupun begitu, ia tak menutup kemungkinan untuk berkarir di negara lain jika mendapatkan peluang. “Saya ingin mengasah kemampuan lebih jauh, baik di bidang musik maupun media,” tuturnya.
Untuk mahasiswa lain yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri, dengan sederhana, Gazel berpesan, “Jangan pernah menyerah pada mimpi. Kerja keras, temukan cara yang tepat, dan miliki hati serta tekad yang kuat”.
Cerita Gazel adalah bukti bahwa mimpi dapat menjadi nyata dengan usaha dan keyakinan. Dari sebuah impian masa kecil hingga perjalanan lintas budaya di Jepang, ia terus membuktikan bahwa langkah besar selalu dimulai dari keberanian untuk bermimpi
