0

Mengejar Impian di Negeri Sakura: Perjalanan Inspiratif Nikita Camelia Aseli

TOKYO, PPI JEPANG – Nikita Camelia Aseli, atau yang akrab dipanggil Niki, adalah seorang pelajar asal Jakarta yang kini tengah menjalani studi S1 di Tokyo International University. Meskipun hidup jauh dari tanah air dan menghadapi berbagai tantangan, Niki melihat semua ini sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang.

Sejak kecil, Niki telah diajarkan untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilnya. “Setiap pilihan yang saya buat, baik besar maupun kecil, baik itu benar atau salah, berkontribusi pada siapa diri saya hari ini,” ungkapnya. Prinsip ini menjadi landasan perjalanan akademis dan pribadi Niki hingga saat ini.

Awalnya, Niki tidak pernah berpikir untuk melanjutkan studi ke Jepang. Setelah menyelesaikan kelas 10 di Sampoerna Academy, Niki melanjutkan studi dengan mengambil jurusan Business Commerce di Monash College. Di sana, ia menyelesaikan gelar diploma dalam 8 bulan pertama dan melanjutkan tahun pertama kuliahnya di Monash University pada 8 bulan berikutnya. Langkah berikutnya tampak jelas: melanjutkan studi ke Australia. Namun, liburannya ke Jepang pada 2019 mengubah segalanya. Pesona negeri ini membuatnya memutuskan untuk mendaftar ke universitas-universitas di Jepang pada 2022, dengan satu syarat: ia hanya akan melanjutkan studi jika berhasil mendapatkan beasiswa.

Proses mencari beasiswa tidaklah mudah. Selama dua bulan, Niki menghabiskan waktu mengumpulkan informasi, mengirim email ke berbagai universitas, dan mempersiapkan dokumen. “Proses ini terasa sangat sulit karena saya tidak mendapatkan bantuan dari pihak ketiga mana pun,” kenangnya. Namun, kerja keras tersebut terbayar dengan diterimanya ia di Tokyo International University dengan beasiswa.

Saat ini, Niki menempuh jurusan Business Economics, bidang yang sejalan dengan minatnya terhadap matematika, ekonomi, dan keberlanjutan. Ia berharap dapat menggabungkan pengetahuan ini untuk menciptakan model bisnis berkelanjutan yang mendukung pelestarian lingkungan dan pertumbuhan ekonomi.

Menghadapi Kendala Bahasa dan Budaya

Meski sebagian besar perkuliahan menggunakan bahasa Inggris, kendala bahasa tetap menjadi tantangan besar bagi Niki. Ia berbagi, “Kesulitan memahami percakapan sehari-hari sering membuat saya merasa terisolasi, dan pada awalnya cukup memengaruhi rasa percaya diri saya.”

Tantangan serupa juga dihadapinya saat mengikuti organisasi TEDxTIU, organisasi TED berbasis di universitasnya. Di sana, ia sering harus berkomunikasi dengan anggota yang lebih nyaman menggunakan bahasa Jepang. Dengan cara kreatif seperti menyelipkan kata-kata bahasa Jepang yang diketahuinya atau berbicara lebih pelan dan lembut, Niki mampu mengatasi hambatan tersebut. Usahanya membuahkan hasil manis; ia kini menjabat sebagai Presiden TEDxTIU, setelah memulai sebagai anggota marketing pada tahun 2022.

Selain kendala bahasa, Niki juga harus belajar mendengarkan dan memahami perspektif yang berbeda dalam lingkup internasional, serta menyesuaikan pendekatannya untuk memastikan komunikasi berjalan efektif.

Menemukan Rumah Kedua di Jepang

Jepang telah menjadi rumah kedua bagi Niki. Ia sangat menghargai keseimbangan antara kesibukan kota dan ketenangan alam yang ditawarkan negeri ini. “Saya sangat menikmati mengunjungi taman-taman di sekitar kota, seperti oasis kecil di tengah kesibukan,” katanya. Selain itu, Niki juga menyukai kafe-kafe unik, pameran seni, dan konser musik yang membuat kehidupannya di Jepang semakin berwarna.

Namun, hidup di negeri orang tentu tidak lepas dari tantangan, termasuk rasa rindu akan rumah. Niki berusaha menjaga koneksi dengan teman-teman dari Indonesia, karena ia percaya bahwa dukungan mereka memotivasinya dan membantunya menghadapi berbagai kesulitan.

Pesan untuk Mereka yang Ingin Studi di Jepang

Bagi Niki, pengalaman studi di Jepang adalah kesempatan berharga untuk belajar dan tumbuh. “Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman dan membuka diri terhadap budaya yang berbeda,” pesannya. Ia juga menekankan pentingnya mempelajari bahasa Jepang, meskipun tidak wajib, karena itu akan sangat membantu dalam komunikasi dan pemahaman budaya lokal.

Selain itu, ia menyarankan untuk memperhatikan kesopanan dan norma sosial Jepang. “Di Jepang, kesopanan sangat dihargai, jadi pastikan untuk selalu bersikap sopan,” tambahnya.

Perjalanan Nikita Camelia Aseli menunjukkan bahwa keberanian untuk bermimpi besar, didukung oleh usaha yang konsisten, dapat membuka peluang tak terbatas. Dengan semangatnya yang pantang menyerah, ia tidak hanya meraih mimpi pribadinya, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk tidak takut menghadapi perubahan dan mengejar peluang, dimanapun itu berada.