PPI JEPANG – Jocelyn Kezia, akrab dipanggil Jeka, lahir dan besar di Tangerang, Indonesia. Sejak kecil, ia menghabiskan waktu belajar di BINUS Serpong dengan kurikulum Cambridge, dikelilingi oleh keluarga kecil yang terdiri dari papa, mama, dan kakak perempuan. Orang tuanya selalu sibuk bekerja, sering pulang larut malam, dan dari mereka Jeka belajar arti kemandirian sejak dini.
Keinginan untuk mengejar pendidikan tinggi di luar negeri muncul bukan hanya karena ingin mencari tantangan baru, tetapi juga karena ia ingin mencoba hidup mandiri di lingkungan yang benar-benar berbeda. Selama 12 tahun berada di sekolah yang sama, dengan lingkungan yang nyaman dan familiar, ia merasa perlu untuk keluar dari zona nyaman dan menghadapi dunia yang lebih luas.
Pilihan jatuh pada Jepang, sebuah negara yang selalu ia kagumi karena kebersihan, ketertiban, dan keindahannya. Selain itu, banyak universitas di Jepang menawarkan beasiswa yang cukup memadai, dan lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Indonesia membuatnya semakin yakin untuk melanjutkan studi di sana.
Jeka akhirnya diterima di Kyushu University, memilih jurusan yang menggabungkan teknik elektro dan ilmu komputer. Awalnya, minatnya terhadap dunia teknologi dimulai sejak SMP, ketika ia mengikuti sebuah bootcamp coding. Saat itu, ia mulai menyadari bahwa dirinya ingin mendalami lebih dalam tentang software dan digital technology. Namun, setelah masuk universitas, justru sisi teknik elektro yang lebih menarik perhatiannya.
Meski begitu, perjalanan studinya di Jepang tidaklah mudah. Kurikulum yang ada sering kali terasa memiliki celah, menciptakan kesenjangan besar antara pengetahuan dasar yang dimiliki dengan materi yang diajarkan oleh para profesor yang sudah sangat berpengalaman. Kesulitan dalam memahami Bahasa Jepang juga menjadi tantangan tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dengan bantuan teman-teman yang lebih mahir serta keberanian untuk terus bertanya dan belajar, perlahan ia dapat beradaptasi.
Di sisi lain, menurut Jeka banyak hal yang dinikmati selama studi di Jepang. Lingkungan kampus yang asri dan tenang memberikan suasana belajar yang sangat kondusif. Perpustakaan yang besar dan lengkap menjadi tempat favoritnya, serta kebebasan untuk bersepeda ke mana pun memberikan pengalaman yang sangat menyenangkan. Kehidupan di Jepang memberikan kesempatan untuk benar-benar mandiri, tanpa perlu bergantung pada transportasi umum atau jasa antar-jemput—cukup dengan sepeda, semua kebutuhan bisa dipenuhi sendiri.
Dukungan dari keluarga juga sangat besar. Orang tuanya senang karena mereka memiliki alasan untuk berkunjung ke Jepang sekaligus mengunjunginya. Dari sisi akademis, mereka tentu ingin mendukung, tetapi karena latar belakang mereka bukan di bidang teknik, Jeka lebih banyak mengandalkan teman-teman dan dosen untuk bimbingan studi.
Pengalaman studi di Jepang juga membuka wawasannya terhadap dunia kerja. Jeka sempat mencoba beberapa pekerjaan paruh waktu, seperti mengajar Bahasa Inggris untuk anak-anak dan orang dewasa, serta bekerja di konbini (minimarket). Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa mencari uang bukanlah hal yang mudah, dan usaha sekecil apa pun harus dihargai.
Selain itu, ia juga mencoba membangun jaringan profesional melalui berbagai organisasi, seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dan Asosiasi Mahasiswa Internasional di Kyudai. Salah satu pengalaman unik yang didapatkan adalah ketika bertemu dengan seorang warga Jepang melalui website “Hello Sensei”, di mana ia menjadi tutornya dalam belajar Bahasa Indonesia. Dari interaksi ini, ia mulai memahami lebih dalam bagaimana membangun koneksi lintas budaya.
Tinggal di Jepang juga membawa tantangan budaya. Salah satu perbedaan terbesar yang dirasakan adalah tingkat kemandirian yang harus dimiliki. Di Indonesia, banyak hal bisa dilakukan dengan bantuan orang lain, mulai dari transportasi hingga keperluan sehari-hari. Namun, di Jepang, segalanya harus dilakukan sendiri. Meski awalnya terasa menantang, pada akhirnya kebebasan tersebut memberikan kepuasan tersendiri.
Saat pertama tiba, Jeka juga mengalami kesulitan dalam membangun pertemanan. Mengingat masa SMA hampir sepenuhnya dilewati dalam situasi pandemi COVID-19, transisi ke kehidupan sosial di Jepang terasa cukup sulit. Namun, dengan terus mencoba dan membuka diri, akhirnya ia menemukan teman-teman yang sejalan dan mendukung.
Pengalaman studi di Jepang mengubah banyak hal dalam cara pandangnya terhadap dunia. Ia menyadari bahwa di mana pun berada, selalu ada hal baik dan buruk—yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya. Salah satu hal yang paling membekas adalah keinginan untuk melihat Indonesia lebih maju, agar suatu hari nanti, anak-anak muda tidak perlu pergi jauh-jauh hanya untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Untuk masa depan, Jeka sedang mempersiapkan diri untuk mencari pekerjaan di Jepang, terutama di bidang semiconductor. Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah meningkatkan kemampuan Bahasa Jepang agar lebih lancar dalam wawancara dan komunikasi di tempat kerja. Meski terasa menakutkan, ia percaya bahwa selama terus belajar dan mencoba, tujuan yang diinginkan pasti bisa dicapai.
Jepang telah mengajarkan banyak hal kepadanya, mulai dari kemandirian, ketekunan, hingga pentingnya keluar dari zona nyaman, ungkapnya. Perjalanan ini belum selesai, tetapi sejauh ini, ia bersyukur telah mengambil langkah untuk belajar dan berkembang di negeri sakura ini.
