0

PPI Jepang Desak DPR Atasi Isu Brain Drain

Tokyo, PPI Jepang, Karimma – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang desak Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) untuk atasi fenomena brain drain dalam diskusi dengan anggota Komisi X DPR RI Guntur Soekarno di Tokyo pada Minggu (15/12/2024). 

Acara yang berlangsung di Wisma Duta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo itu dihadiri oleh perwakilan berbagai organisasi di lingkup PPI Jepang, seperti PPI Kanto, PPI TIU, PPI GRIPS, PPI Todai, PPI Keio, PPI Waseda, dan PPI Nodai. 

Ketua Umum PPI Jepang 2024-2025  Prima Gandhi menyampaikan keprihatinannya terkait fenomena brain drain, yang mana dapat merugikan Indonesia itu sendiri. Pasalnya, banyak talenta unggul dengan pendidikan tinggi dan memiliki keahlian khusus  memilih untuk meniti karir di luar negeri. 

Mahasiswa Doktoral di Tokyo University of Agriculture ini menjelaskan, keadaan tersebut dapat merugikan negara dalam jangka pendek. Apalagi, menurutnya, jika yang terlibat itu adalah pemuda-pemudi yang pernah mendapat fasilitas negara seperti beasiswa dan riset grant. 

“Brain drain akan menghambat pertumbuhan ekonomi dan inovasi suatu negara karena kehilangan sumber daya manusia unggul,” ujar Gandhi dilansir dari Radar Bogor (15/12/2024). 

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi X bidang pendidikan, olahraga, sains dan teknologi DPR RI Puti Guntur Soekarno, menyatakan komitmennya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Ia berjanji akan mendorong pemerintah dan sektor swasta untuk menciptakan peluang kerja yang lebih menarik bagi talenta-talenta unggul Indonesia, serta menyediakan insentif dan fasilitas yang mendukung pengembangan karier di dalam negeri. 

“Dalam rapat dengan mitra Komisi X seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi, Kemenpora, serta BRIN, saya akan mengangkat isu brain drain ini agar dapat dicari solusinya dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Saya juga berharap pelajar dan mahasiswa Indonesia di Jepang tidak berpindah kewarganegaraan, karena negara membutuhkan pikiran dan tenaga kalian setelah lulus,” ujarnya.

Selain membahas isu brain drain, pertemuan ini juga mencakup diskusi tentang efisiensi beasiswa LPDP, kelembagaan organisasi PPI, serta topik riset mahasiswa Indonesia di luar negeri. Acara tersebut ditutup dengan makan siang bersama dengan pihak KBRI.