HOKKAIDO, PPI JEPANG – Perkenalkan, Namaku Ilham Maulidin. Aku lahir dan besar di sebuah desa kecil, Limbangan, Garut-Jawa Barat. Di desa ini, mimpi seringkali tak tumbuh tinggi. Mungkin karena sejak kecil kami sudah terbiasa melihat dunia dari sudut pandang yang sederhana, asal cukup. Tapi entah kenapa, sejak kecil aku merasa bahwa hidup tidak boleh hanya sampai pada “asal cukup”.
Aku adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara dan sejak kecil terbiasa menunduk pada realitas: kami tidak punya lebih. Kedua orang tuaku dan kakakku pedagang di Pasar Limbangan. Namun, kian waktu usaha orang tuaku gulung tikar dan usia mereka sudah terlalu senja untuk kembali bangkit berjualan.
Sebagai anak bungsu, aku membantu kakakku berjualan. Bangun pukul 2 pagi, ke pasar, bantu angkut dagangan, layani pembeli sampai pukul 6, lalu pulang dan langsung bersiap ke sekolah. Uang hasil membantu kakak, sekitar 15 ribu rupiah, kujadikan bekal sehari-hari. Tidak banyak, tapi cukup. Cukup untuk bertahan. Cukup untuk melangkah.
Aku hanya tahu, satu-satunya cara keluar dari lingkaran ini adalah melalui Pendidikan. Bahwa hidup seperti ini tak harus diwariskan. Bahwa kemiskinan bisa berhenti di aku. Bertahun-tahun aku menjalani rutinitas itu hingga lulus dari SMA negeri di kampung. Siapa sangka, justru dari pasar itulah aku belajar lebih banyak dari sekadar pelajaran sekolah. Aku belajar manajemen waktu, manajemen kegiatan, berinteraksi dengan berbagai karakter, hingga memahami makna kerja keras yang sebenarnya. Tidak mudah, tapi itulah yang membentukku.
Ketika itu, Aku memilih IPB. Bukan karena yakin, tapi karena satu kalimat Ayah “Nak, coba perjuangkan untuk bisa masuk kampus negeri terbaik. Kalau bisa, IPB di Bogor.” Waktu itu aku hanya bisa mengangguk. Dalam hati ragu, tapi tidak ingin mengecewakan. Aku berasal dari sekolah daerah, bagaimana bisa bersaing lewat SNMPTN?
Ketika itu, aku tetap kirimkan rapor 5 semesterku, mengandalkan jerih payah yang kupupuk siang dan malam. aku pilih IPB jurusan Teknologi Industri Pertanian.
Dan Allah menjawab doa ayahku. Aku diterima di IPB, jurusan Teknologi Industri Pertanian, dengan beasiswa BIDIKMISI. Tangis dan senyum bercampur jadi satu. Mimpi ayah tercapai, tapi perjuangan belum selesai—karena ini baru awalnya saja. Sejak saat itu, untuk pertama kalinya, aku merasa diperbolehkan untuk bermimpi lebih jauh.
Hari pertama di IPB, aku mengikuti MPKMB, masa pengenalan kampus. Suasana Bogor yang ramai dan gedung-gedung megah membuatku merasa sangat kecil. Aku masih anak pasar Limbangan. Tapi ada satu momen yang mengubah cara pandangku.
Dalam seminar motivasi, seorang pembicara berkata ;
“Empat tahun kuliah bukan hanya untuk lulus. Kampus adalah tempat kamu memulai, bermimpi, berproses, dan meninggalkan jejak”
Kata-kata itu membuka mataku: jika mimpi sederhanaku bisa jadi nyata, mengapa tidak bermimpi lebih besar? Aku mulai menata ulang mimpiku. Aku ingin menempuh pendidikan sampai tingkat tertinggi— S3. Aku ingin menjadi akademisi. Peneliti. Dosen. Sosok yang bisa berkontribusi pada Indonesia lewat ilmu. Aku ingin jadi orang yang bisa membuka jalan untuk anak-anak dari desa seperti aku dulu.
Aku sadar, kuliah bukan hanya soal nilai. Aku mulai aktif di organisasi, salah satunya FORCES IPB—organisasi ilmiah yang mempertemukanku dengan banyak pemuda luar biasa. Aku ikut lomba karya tulis, PKM-PIMNAS, essay, debat, dan forum nasional. Ketika itu, aku juga menjadi penerima Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa. Di sana, aku mendapat mentoring kepemimpinan, sosial, dan spiritual yang memperkaya jiwaku. Aku bukan lagi si anak pasar. Aku mulai mengenal dunia ide, pemikiran, dan perubahan.
Saat studi S1 di IPB, aku rela lulus telat setahun demi bisa ikut program student exchange ke Jepang pada tahun 2018, darisitulah, aku merasa jalan menuju mimpi kian terang benderang. Meninggalkan zona nyaman, belajar di negeri orang, membangun relasi dengan professor di Jepang, dan menyerap atmosfer riset serta kedisiplinan yang luar biasa. Tahun-tahun setelahnya berhasil aku lalui satu per satu walau jalannya penuh liku-liku.
Di semester akhir S1, aku memutuskan untuk menikah. Banyak yang heran—karena menikah muda saat kuliah bukan hal biasa. Tapi aku yakin, keluarga adalah energi. Aku sadar, jalan mimpi ini panjang, dan aku butuh support system yang mau membangun semuanya dari nol. Istriku teman seperjuangan, selalu mendukung mimpi-mimpiku. Kami menabung dan mencari peluang studi lanjut bersama.
Aku ingat betul perjuangan panjang yang kulalui untuk mengejar mimpi kuliah S2 di luar negeri. Tahun 2019, aku mendaftar ke berbagai beasiswa: MEXT, AAS, YTB, KAUST, Chevening, hingga HUPF, semua aku coba, semua aku gagal. Tapi aku tak pernah menyerah.
Aku sempat diterima di NTU Taiwan , namun pandemi COVID-19 datang dengan segala tantangannya. Biaya karantina, logistik, dan situasi keluarga memaksaku untuk mundur. Mimpi itu kembali tertunda, tapi aku tidak berhenti berjuang.
Aku mulai mengontak profesor-profesor di Jepang, memperkenalkan diri, dan menunjukkan kesungguhanku. Tak lama, kesempatan datang dari INPEX Corporation—sebuah perusahaan energi besar di Jepang yang memberikan beasiswa untuk 3 pemuda Indonesia. Ada ribuan pelamar yang mendaftar dan hanya 10 orang yang lolos ke tahap wawancara. Termasuk aku salah satunya. Ada banyak yang dinilai, tak hanya soal akademik, proses seleksinya ketat: termasuk wawancara dalam Bahasa Inggris dan Jepang dengan pihak Jepang langsung.
Wawancara itu menguji mentalku. Gugup, aku berbicara dengan hati, bukan hanya dengan CV. Alhamdulillah, aku berhasil lolos menjadi awardee.
Aku memilih Hokkaido University sebagai tempat studi, karena risetnya yang kuat di bidang lingkungan dan biomaterial, yang sangat relevan dengan impianku—mengembangkan material ramah lingkungan untuk reklamasi lahan pasca-tambang. Ini lebih dari sekadar penelitian bagiku; ini adalah tanggung jawab untuk masa depan Indonesia.
Sebelum ke Jepang, Alhamdulillah kami di karuniai anak pertama, saat itu aku sempat bekerja sebagai project officer di IPB dan aktif di berbagai komunitas sosial. Semua pengalaman itu mengajarkanku ketangguhan dan kepekaan sosial.
Mencari beasiswa bukan hanya soal akademik. Tantangan terbesar adalah mengelola kekecewaan, menjaga semangat meski berulang kali ditolak, dan tetap berharap meski belum ada kepastian. Proses ini mahal, baik waktu, biaya, dan emosi. Namun, aku belajar bahwa setiap kegagalan adalah latihan, bukan akhir dari cerita. Aku terus berusaha, mencari informasi beasiswa di mana pun, dan tak pernah menunggu keajaiban datang. Aku mengejar mimpi itu dengan segala usaha.
S2 di Hokkaido University, kami jalani dengan membawa keluarga kecil kami. Jepang adalah dunia baru. Cuaca dingin yang menusuk tulang, bahasa Jepang yang tak kami kuasai, dan rasa rindu akan tanah air jadi tantangan sehari-hari. Tapi kami bertahan.
Penelitianku di S2 adalah tentang produksi biomaterial dari protein rekombinan dan senyawa bioaktif untuk remediasi tanah tercemar. Inspirasi datang dari Bangka Belitung, kampung halaman istriku yang rusak akibat tambang. Aku ingin membawa solusi. Aku ingin membawa “sesuatu untuk Indonesia”.
Saat aku lanjut PhD pada April 2024, aku justru mengalami masa paling berat. Dari April hingga Oktober, kami tidak memiliki pemasukan tetap. Tabungan habis. Beasiswa dari perusahaan Jepang—semuanya gagal. Istriku hamil besar anak kedua. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Aku mulai khawatir—bukan hanya soal uang, tapi soal tanggung jawab sebagai suami dan ayah.
Ketika itu, Kami mencoba hubungi organisasi foreigner di Sapporo, berharap ada pekerjaan paruh waktu. Mereka tidak bisa bantu soal kerja, tapi… mereka memberi kami sembako darurat: sarden, saus tomat, dan nasi instan untuk 1 minggu. Itu makanan untuk masa bencana, tinggal diseduh dengan air panas. Itu lah makanan kami sehari hari selama 1 minggu itu. Tapi aku tak berhenti berdoa dan tetap datang ke lab setiap hari, menyelesaikan eksperimen, menganalisis data.
Dan di tengah keterbatasan itu, kabar itu datang: beasiswa EXEX dari Hokkaido University yang aku apply di bulan Juni, akhirnya diterima. Dan yang mengejutkan, beasiswa itu mau merapel monthly allowance nya dari April 2024 sampai Maret 2025—senilai + 2,18 juta yen.
Jumlah terbesar yang pernah kupegang seumur hidup. Rasanya seperti Allah berkata, “Aku lihat perjuanganmu.”
Di PhD tahun pertama, anak kami kedua lahir di rumah sakit Jepang. Kami merasa bersyukur—meski serba terbatas, kami tetap bisa merawat keluarga kecil ini.
Selama ini, bahasa Jepang jadi tantangan bagi kami. Di laboratorium, semua alat canggih tapi manualnya pakai kanji. Aku belajar pelan-pelan, sambil tanya teman Jepang. Culture shock juga tak bisa dihindari. Di Jepang, segalanya teratur, efisien, dan saling menghormati. Kadang rasanya sepi, tapi di balik itu aku belajar kemandirian.
Saat ini aku masih menempuh PhD di tahun kedua. Tapi aku tak ingin sekadar lulus. Aku ingin hasil penelitianku bisa berguna. Aku ingin menjadi dosen dan peneliti di Indonesia, mengembangkan teknologi ramah lingkungan untuk merehabilitasi tanah bekas tambang.
Aku ingin menjadi jembatan antara Indonesia dan Jepang—membuka akses kolaborasi riset dan beasiswa, terutama bagi anak-anak muda dari desa, seperti aku dulu. Aku percaya, siapa pun bisa meraih mimpi, asal konsisten dan sabar.
Hari ini, aku masih di Jepang, meneliti solusi dari alam untuk merehabilitasi tanah yang rusak. Tapi lebih dari itu, aku sedang menunjukkan bahwa mimpi yang berasal dari pasar tradisional Limbangan, dari anak tukang ikan dan penjual sayur, bisa tumbuh tinggi… asal akarnya kuat.
Aku bukan siapa-siapa. Tapi aku percaya satu hal:
Mimpi yang ditanam dengan tekad, disiram oleh doa, dan dijaga oleh ketekunan, akan terus mengakar kuat. Akar yang dalam—meski tak terlihat—akan menopang pohon untuk terus tumbuh tinggi menjulang, meski di tanah yang keras sekalipun.
Untuk adik-adik yang ingin kuliah ke Jepang—jangan tunggu sempurna untuk mulai. Aku bukan anak orang kaya. Bahasa Inggrisku pun dulu pas-pasan. Tapi aku terus belajar, bertanya, dan memperbaiki diri. Mulailah dari sekarang: ikut organisasi, cari mentor, asah kemampuan nulis, dan rajin buka website beasiswa. Informasi ada di mana-mana, yang dibutuhkan hanya keberanian untuk mencoba.
Untuk yang minder atau merasa “nggak pantas” daftar beasiswa—aku ingin bilang: kamu juga layak. Beasiswa bukan buat orang pintar saja, tapi buat orang yang sungguh-sungguh. Aku dulu hanya anak pasar, tapi sekarang bisa studi di salah satu kampus terbaik dunia.
Mimpimu itu sah. Dan kamu punya hak untuk mewujudkannya. Jangan biarkan asal-usul membatasi langkahmu. Karena yang penting bukan dari mana kamu datang, tapi ke mana kamu ingin pergi.
