Written by Edhika Almi
Created on Monday, 21 February 2011 14:24
Berikut reportase yang dibuat oleh saudara Fithra Faisal Hastiadi pada kuliah Umum Profesor Ginanjar Kartasasmita Senin, 21 Februari 2011 di KBRI dengan tema Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Baik.
Selamat menikmati.
Harapan untuk Indonesia yang Lebih Baik
Sepanjang pemaparannya, Profesor Ginanjar lebih banyak bercerita mengenai kondisi umum bangsa Indonesia. Dalam prolognya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia kini telah berubah dan berkembang menjadi negara yang lebih baik. Hal ini bisa dilihat dari indikator-indikator kesejahteraan yang menunjukkan tren peningkatan. Terlepas dari polemik yang melanda keabsahan data-data tersebut, setidaknya data ini bisa sedikit mengkonfirmasi terjadinya trasnformasi Indonesia yang mencakup aspek-aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya ujarnya seraya menunjukkan mimik serius.
Dalam hal hubungan kerjasama Indonesia-Jepang, beliau menuturkan bahwa Indonesia telah menjadi partner yang sederajat. Hubungan sub-ordinasi yang telah berjalan selama puluhan tahun sudah selayaknya ditinjau ulang. Dalam beberapa kesempatan bermuhibah dengan pejabat-pejabat di Jepang, beliau selalu mengungkapkan bahwa Indonesia adalah partner strategis dari Jepang dan tidak lagi membutuhkan belas kasihan. Official Development Assistance (ODA) (bantuan utang luar negeri dengan bunga ringan dan masa jatuh tempo yang panjang-red) pun sudah tidak layak lagi diterima Indonesia. Dengan tingkat pendapatan perkapita yang hampir menyentuh US$3000 telah menyiratkan naiknya derajat Indonesia. Pola kerjasama Indonesia-Jepang diharapkan bisa beredar pada sektor perdagangan dan investasi, dimana kedua sektor ini merupakan mesin yang dapat menggiatkan perekonomian diantara dua negara ini. Lebih lanjut beliau menambahkan bahwa Jepang memiliki kepentingan untuk melihat ASEAN, khususnya Indonesia untuk menjadi lebih kuat dan makmur, demi terciptanya stabilitas di wilayah Asia Timur.
Tatkala bertutur mengenai aktor-aktor yang berperan dalam kerja sama Indonesia-Jepang, setidaknya beliau mengidentifikasi dua aktor utama yaitu pemerintah dan swasta. Dalam hal ini, Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator sementara swasta lebih berperan ke masalah teknis. Dari sinilah kemudian governance ini didefinisikan secara utuh, yaitu seni memainkan peran. Pemerintah sebagai wasit, sangatlah tidak elok jika ikut serta turun dalam permainan, sebaliknya pihak swasta tidak perlu menguras energi untuk menciptakan peraturan dan berperan menjadi wasit.
Read more...