//
Umum

Menilik Kehidupan Perkuliahan Aparatur Sipil Negara di Jepang

14 January 2018 Oleh administrator

Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar melakukan percepatan pembangunan dalam rangka memperkuat daya saing Indonesia di tingkat internasional. Selain pembangunan fisik, pemerintah juga fokus terhadap pengembangan sumber daya manusia khususnya para penyelenggara pemerintahan atau aparatur sipil negara (ASN). Melalui program kerja sama antara Japan International Cooperation Agency (JICA) dan pemerintah Indonesia, saat ini sejumlah ASN terpilih dari berbagai macam wilayah dan unit kerja sedang menempuh pendidikan magister di beberapa kampus di Jepang melalui program beasiswa Linkage yang dikelola oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. 

Dilansir dari situs resmi Bappenas, program beasiswa ini ditujukan khusus untuk para ASN dengan tujuan untuk mendukung upaya peningkatan kapasitas instansi perencanaan pemerintah di pusat dan daerah dengan meningkatkan kompetensi dan produktivitas perencana pemerintah. Melalui sistem kuliah double degree, penerima beasiswa akan menghabiskan tahun pertama sebagai mahasiswa magister di universitas-universitas Indonesia seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran. Kemudian pada tahun kedua atau saat penulisan thesis, dilanjutkan di universitas Jepang seperti International University of Japan, Hiroshima University, National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), Kobe University, Tohoku University dan Ritsumeikan University.

Hal Yang Dirasakan Selama Di Jepang

Nuzula Anggraini yang akrab disapa Raini saat ini bekerja sebagai ASN di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) untuk Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku mendapat kesempatan belajar sebagai mahasiswa Magister Perencanaan Kota dan Daerah di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada pada tahun pertama. Saat ini Raini sedang menjalani tahun kedua di Graduate School of International Cooperation Studies, Kobe University. Ketika berbicara mengenai tantangan kembali lagi ke bangku perkuliahan setelah sekian lama bekerja, Raini mengungkapkan: “Tantangan terbesar ketika memutuskan untuk lanjut sekolah lagi adalah membangun pola pikir dan penyesuaian ritme kerja, apalagi saya sudah 14 tahun bekerja. Sewaktu bekerja semua yang dikerjakan berdasarkan pada peraturan pemerintah sedangkan ketika menjadi mahasiswa saya harus berpikir secara teoretis dan akademis”.

Lebih lanjut ketika ditanya tentang pengalaman belajar di Indonesia dan Jepang, Raini mengatakan bahwa selama belajar di Indonesia semua materi kuliah lebih mudah karena apa yang diajarkan sangat berkaitan dengan dunia kerja sebelumnya. Tetapi ketika sudah berada di Jepang mahasiswa ASN dituntut untuk berpikir secara global. “Proses berpikir lebih luas akan membantu para penerima beasiswa ini untuk meningkatkan kinerja mereka menjadi lebih baik lagi ketika kelak kembali mengabdi di Indonesia”, ungkap Raini yang sekarang sedang mengerjakan penelitian tentang pembangunan kawasan perbatasan di Indonesia. Mahasiswa Beasiswa Linkage 2017-2018 yang berkuliah di Kobe University berasal dari Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.

Hal ini juga diungkapkan oleh Agung, ASN asal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, yang saat ini sedang menyelesaikan tahun kedua di GRIPS yang berlokasi di Tokyo. “Keunggulan bagi ASN untuk mengikuti program ini dan belajar di Jepang adalah kesempatan untuk mengenal kebudayaan Jepang. Benturan budaya dan akulturasi budaya di Jepang yang berbeda jauh dengan Indonesia sangat bagus untuk mengembangkan ASN tetapi itu kembali lagi kepada ASN yang bersangkutan”. Agung sebelumnya menempuh tahun pertama pada Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi (PPIE) Universitas Indonesia. 

Mengambil tema penelitian tentang kajian ekonomi perkotaan, Agung mengatakan bahwa kuliah di Jepang menguntungkan mahasiswa, misalnya dari aspek akses teknologi informasi yang cepat, transportasi publik yang reliable serta kesempatan mempelajari bahasa Jepang.

Penerima Beasiswa Linkage 2017-2018 yang saat sedang menempuh tahun ke-dua di GRIPS berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya dan Universitas Padjajaran. 

Masa Pendaftaran Beasiswa Linkage

Program ini diselenggarakan secara resmi oleh Bappenas pada bulan Juli hingga Agustus dan proses seleksinya terdiri dari tiga fase yakni; seleksi administrasi, Tes Potensi Akademik (TPA), dan TOEFL. Proses seleksi beasiswa dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara online di situs Bappenas pada halaman ini.

 

 

Penulis:
Syaban Mohammad
Kobe University, Graduate School of International Cooperation Studies