//
Umum

Menjadi Mahasiswa: Refleksi Seorang Insan Intelektual

02 May 2017 Oleh administrator

hanya satu tanah yang dapat disebut Tanah Airku,

ia berkembang dengan usaha dan usaha itu ialah usahaku..

-Bung Hatta, dalam Pledoi Persidangan di Den Haag-

 

Seorang filsuf pendidikan, Paulo Freire menyatakan bahwa setidaknya harus terdapat tiga unsur dalam proses pendidikan yakni: guru, murid (dalam relasi yang setara) dan “realitas dunia”. Tanpa itu, pendidikan hanya menghasilkan orang-orang yang diproduksi oleh pendidikan sebagai pengidola dirinya sendiri: belajarlah yang benar untuk karirmu di masa yang akan datang. Dalam kaitan ini, Pramoedya Ananta Toer pun menekankan, mahasiswa adalah bagian dari rakyat yang memiliki intelektualitas, tidak memiliki hutang pada siapapun kecuali pada rakyat.

Untuk itu, dalam menjadi seorang insan terpelajar di luar negeri, kita perlu bijak memahami bahwa peran seorang terpelajar tidaklah hanya duduk di bangku kuliah memikirkan kehidupan dan prestasi pribadinya semata. Kita adalah sedikit yang beruntung dari ratusan juta masyarakat Indonesia yang tidak mendapatkan akses terhadap pendidikan. Keterdidikan bukan semata-mata membuat seseorang meraih cita-cita individual, tetapi keterdidikan haruslah menjadi instrumen untuk menggerakan, untuk menginspirasi dan untuk memberi gagasan.

Seorang terpelajar sewajarnya dapat juga memahami tanggung jawab dan peran sosial yang dimiliki, sehingga pendidikan dan ilmu yang didapat dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan masyarakat. Oleh karena itu, tulisan ini hadir sebagai sebuah upaya berbagi dan merefleksikan peran kita sebagai seorang insan akademis serta memahami nilai dasar dari pendidikan tinggi yang tengah kita tempuh.

 

Memahami Hakekat Peran Mahasiswa

Sejarah mengajarkan kepada kita, bahwa bangsa ini didirikan oleh kaum muda terdidik. Para founding fathers, yang dimotori diantaranya oleh Bung Hatta, Ahmad Subardjo dan Sutan Sjahrir, telah menunjukan bahwa pergerakan pelajar Indonesia di luar negeri lewat Perhimpunan Indonesia di Belanda dapat menjadi salah satu kekuatan penting yang melatarbelakangi berdirinya negara Republik Indonesia. Dengan berbekal gerakan perlawanan yang bersifat intelektual, para founding fathers Indonesia ini melakukan pola gerakan intelektual mahasiswa yang cerdas dengan cara melakukan kajian mendalam, tulisan yang tajam, dan lobi-lobi lihai di berbagai forum internasional. Gerakan intelektual yang dilakukan oleh para founding fathers di luar negeri ini pada akhirnya membuka mata dunia terhadap Indonesia.

Kesadaran sejarah inilah yang harus dapat kita maknai untuk dapat menemukan hakikat dari peran sosial mahasiswa yang sedang kita emban saat ini. Bahwa kita, harus dapat terus menghidupkan gerakan intelektual mahasiswa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Gerakan intelektual mahasiswa yang saya pahami adalah sebuah gerakan yang tidak pernah berhenti untuk terus bergerak mengamati, mengkritisi, dan bertindak nyata dalam membangun bangsa. Meminjam sebuah istilah dari Prof Satjipto Rahardjo, “Mahasiswa butuh menjadi makhluk yang progresif. Mahasiswa harus berpikir ke depan, tidak sempit dan parsial memikirkan mengenai pemanfaatan keilmuannya”. Mahasiswa juga sepatutnya berpikir dan bertindak untuk masyarakat, tidak hanya berwacana saja, tidak hanya belajar dan bergerak untuk diri sendiri saja.

Untuk itulah, saya memaknai peran sebuah organisasi kemahasiswaan yang bernama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) tidak hanya sebagai ajang perkumpulan mahasiswa Indonesia di luar negeri, tetapi harus juga dapat berperan sebagai katalisator untuk dapat terus menghidupkan gerakan intelektual mahasiswa. PPI adalah embrio harapan masa depan bangsa, dan merupakan wadah bagi mereka yang mempunyai mimpi untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Dan sebagai pelajar yang sedang menimba ilmu di Jepang, kita memiliki privilege untuk itu, karena kita kini dapat melihat dunia, kita dapat melihat bangunan Indonesia dari luar. Oleh karena itulah, PPIJ yang memiliki peran strategis menghimpun para pelajar Indonesia di Jepang, harus senantiasa menjadi wadah pemBELAJARan bagi anggotanya untuk senantiasa mengoptimalkan segenap potensi. Namun untuk itu, perlu terdapat semangat BERGERAK dari PPIJ guna mewujudkan ide dan kata menjadi aksi nyata, dengan tentunya dilandasi nilai keBERSAMAan dengan seluruh PPI Korda dan Komsat serta elemen masyarakat Indonesia di Jepang.

Kami percaya bahwa perubahan itu tidak perlu dilakukan oleh banyak orang, perubahan dapat digerakkan oleh beberapa orang yang mampu untuk melihat realitas yang ada, masuk ke dalamnya, kemudian memperbaikinya. Kami percaya Indonesia yang lebih baik akan dapat tercipta dari gagasan-gagasan kecil yang kita bawa untuk menjadi sebuah aksi nyata. kami pun percaya bahwa mimpi besar mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat tidak akan dapat tercipta apabila kita hanya mempunyai mimpi semata, ia akan tercipta apabila kita mampu bangun dari mimpi tersebut dan bekerja keras mewujudkannya.

Akhir kata, marilah kita mengisi kehidupan kita di Jepang ini dengan bersama-sama menghidupkan kembali gerakan intelektual mahasiswa. Apalah artinya kita menempuh pendidikan tinggi di luar negeri ini, apabila tidak membawa manfaat buat Indonesia. Apalah arti gelar yang kita miliki, apabila tidak memiliki kesadaran akan tanggung jawab dan peran sosial yang kita miliki. Sebagaimana ungkapan bung Hatta di awal tulisan ini, sulit rasanya membayangkan Indonesia akan menjadi sebuah bangsa yang besar dan bermartabat apabila kita tidak memulainya dengan usaha dan mimpi kita. Mari kita sama-sama melanjutkan tradisi gerakan intelektual pelajar Indonesia yang telah diwariskan puluhan tahun lamanya oleh para founding fathers bangsa Indonesia. Karena esensi dari pendidikan yang kita dapatkan adalah untuk mempertajam pikiran; memperhalus perasaan; dan menumbuhkan kebijakan.

Mari bersama-sama PPI Jepang, kita menjadi kaum terdidik yang siap menjadi bagian dari penggerak untuk mewujudkan harapan akan Indonesia yang lebih baik. Mari menjadi BINTANG yang sinarnya ‘kan menyinari LANGIT PERADABAN!

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Salam hangat,

 

Pandu Utama Manggala

Ketua Umum PPI Jepang 16/17

#BelajarBergerakBersama