//
Umum

Bergegas Dalam Penggunaan Teknologi Mesin di Bidang Pertanian

03 March 2017 Oleh administrator

Era keemasan pertanian Indonesia mencapai puncaknya pada zaman Orde Baru saat  dipimpin oleh Presiden Soeharto. Kondisi paling prestisius yang dicapai adalah terwujudnya swasembada pangan pada tahun 1985. Kebijakan Revolusi Hijau pada era tersebut berhasil  memodernisasi bidang pertanian kita dengan cara mengubah petani gaya lama (peasant) menjadi petani gaya baru (farmer). Peningkatan peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam peningkatan produksi bahan makanan diketahui merupakan faktor kunci pada fase ini.

Upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menggalakkan revolusi hijau dipraktikkan melalui intensifikasi pertanian, ekstensifikasi pertanian, diversifikasi pertanian, dan rehabilitasi pertanian. Namun revolusi ini bukan tanpa celah, sejak terjadinya reformasi ekonomi 1983, terdapat perubahan rasio pengeluaran pemerintah untuk sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indikator tersebut mengalami penurunan dari 8.7% pada pelita IV menjadi 5.5.% pada Pelita V, menurun menjadi 3.6% pada Pelita VI [1].

Sedangkan untuk saat ini, era Presiden Joko Widodo, anggaran sektor pertanian tak lebih dari 5% dari APBN, masih cukup jauh jika dibandingkan dengan negara maju yang mencapai 20-40%. Indonesia berada di urutan ke 71 dari 113 Negara dalam memenuhi ketanan pangan lokal. Peringkat ini jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, maka Indonesia menempati peringkat ke 5, masih dibawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam [2].

Surplus Pangan yang Tipis

Jika melihat data yang diterbitkan Badan Pusat Statistik, sebenarnya pertanian Indonesia khususnya pada bahan makanan pokok padi, mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tercatat sejak 2010 hingga 2015 laju peningkatan produksi padi di Indonesia mencapai 1.13% pertahun. Sedangkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia dari tahun 2010 hingga 2014 ialah 1.4% pertahun [3] & [4].

Dengan melihat perbandingan kedua data tersebut, dapat kita simpulkan bahwa walaupun produksi pertanian di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya, namun surplus pangan tetap tipis dikarenakan angka laju peningkatan produksi pertanian masih dibawah angka pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu, ketimpangan laju produksi pertanian dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk ini, harus segera diatasi dengan strategi yang tepat agar Indonesia memiliki ketahanan pangan, sesuai dengan visi kedaulatan pangan Indonesia 2014-2024 [5].

Solusi yang Memungkinkan

Salah satu upaya dalam meningkatkan produksi pangan Indonesia yang digadang oleh pemerintah ialah dengan meningkatkan jumlah lahan pertanian. Tetapi peningkatan jumlah lahan pertanian akan membutuhkan tenaga dan sumber daya manusia yang lebih banyak. Ini tentu saja akan menemui kendala baru yakni minimnya, atau terus menurunya jumlah petani di Indonesia setiap tahunnya.

Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu dilakukan pengembangan ke arah mekanisasi pertanian. Dengan diterapkannya teknologi baru dalam bidang pertanian, produksi pertanian dapat ditingkatkan dengan perluasan lahan pertanian dan menggunakan sumber daya manusia yang minimum.

Usaha-Usaha Negara Maju dalam Mekanisasi Pertaniannya

Salah satu negara yang berdaya dalam hal ketahanan pangan ialah Jepang. Negara empat musim ini berhasil meningkatkan produksi pertaniannya dengan jalan mekanisasi proses pertanian menggunakan teknologi modern. Mekanisasi proses pertanian ini memberikan dampak yang signifikan terhadap kemakmuran para petaninya.

Petani di Jepang sebelum menggunakan teknologi modern dalam pertaniannya membutuhkan waktu 200-250 jam untuk mengerjakan lahan seluas 4 hektar. Setelah mengalami modernisasi pertanian mereka hanya memerlukan waktu 60 jam untuk mengerjakan lahan seluas 4 hektar. Artinya jika waktu kerja yang sama dilakukan oleh seorang petani, maka ia dapat mengerjakan lahan seluas 12 hektar, 3 kali lipat lebih luas dari sebelumnya. Semakin banyak jumlah lahan maka secara umum produksi pertanian akan meningkat [6].

Di sisi lain, India yang merupakan salah satu negara dengan jumlah populasi terbesar kedua di dunia juga telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap sektor pertanian. Pertanian menjadi sektor penting, karena, hampir 58,2 % dari jumlah penduduk terlibat di dalamnya.[7]

Semenjak awal tahun 1980an, Pemerintah India sudah mulai bergerak untuk menitikberatkan investasi dalam bidang mekanisasi pertanian. Pada akhir tahun 1990an India menjadi salah satu negara terbesar di dunia yang memproduksi traktor roda dua yang merupakan salah satu alat pertanian yang paling populer digunakan oleh petani.[8] Tak cukup sampai disana, dewasa ini pemerintah India juga melakukan beberapa upaya dalam rangka mengembangkan mekanisasi pertanian. Diseminasi teknologi tepat guna mulai digalakkan melalui perbaikan kualitas penelitian pada sektor pertanian dan diiringi dengan peningkatan keterampilan pada petani. Hal ini tak lain ialah untuk mempercepat peralihan pertanian tradisional ke arah mekanisasi pertanian.[7]

Penelitian Diperlukan untuk Mengadopsi Teknologi dari Negara Lain

Teknologi mesin-mesin pertanian memang telah lebih dahulu dikembangkan oleh negara Amerika, Jepang dan India. Namun ini tidak serta merta berarti kita bisa dengan mudah tinggal membeli mesin-mesin tersebut kemudian menggunakannya di Indonesia.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, salah satunya ialah harga yang relatif mahal. Selain urusan harga, hal lain yang perlu diperhatikan ialah kondisi tanah yang berbeda, proses dalam bertani yang berbeda, dan medan atau lahan pertanian yang berbeda. Untuk itu diperlukan usaha-usaha dari para peneliti dan praktisi pertanian untuk mengadopsi mesin-mesin pertanian dari luar untuk bisa digunakan di Indonesia.

Sebagai langkah awal, Kementrian pertanian telah membuat mesin transplanter Indo Jarwo yang mampu bekerja dengan baik di lahan pertanian Indonesia. Pencapaian ini tidaklah lepas dari peran peneliti dan teknisi yang merancang desain dari mesin tersebut. Ini merupakan kemajuan yang luar biasa dan harus didukung untuk penerapannya dalam pertanian di Indonesia.

Artinya kita telah mampu membuat teknologi tepat guna untuk pertanian di Indonesia. Perkembangan ini harus disambut dengan baik oleh penyuluh dan praktisi pertanian, agar kedepannya mesin-mesin karya anak bangsa ini bisa digunakan oleh petani Indonesia.

Revolusi ke Arah Mekanisasi Pertanian

Revolusi pertanian dari tradisional ke arah modern menggunakan teknologi baru tentu saja tidak semudah yang kita bayangkan. Setelah memproduksi mesin pertanian yang tepat guna sekalipun, mengganti pekerja tani dengan mesin pertanian bukanlah perkara yang mudah, apalagi mengingat biaya awal yang diperlukan untuk membeli mesin-mesin pertanian ini.

Di Jepang sendiri mekanisasi pertanian ini berhasil dilakukan hanya dalam kurun waktu 20 tahun, 1960-1980. Lajunya perkembangan ini tentu saja tidak lepas dari peran serta pemerintah dan para penelitinya dalam memberikan dukungan, baik teknologi tepat guna, pemasyarakatan alat-alat pertanian baru, maupun bantuan pendanaan.

Pemerintah Jepang mengeluarkan program pinjaman dana khusus untuk keperluan modernisasi pertanian. Dengan cara ini mereka menstimulus para petani kecil maupun menengah untuk membeli mesin-mesin pertanian dalam meningkatkan produksi pertaniannya.

Dengan stimulus seperti ini sekalipun para petani di Jepang memiliki masalah yang serius dalam membayar cicilan hutang yang diberikan pemerintah ini. Namun permasalahan ini akhirnya diselesaikan oleh para petani dengan memanfaatkan waktu menganggur ketika musim dingin untuk bekerja ke kota. Uang hasil bekerja di Kota ini mampu membayar total pinjaman mereka kepada negara [5].

Pada konsepnya, metode yang sama mungkin saja dilakukan di Indonesia. Pemerintah mengeluarkan dana untuk mekanisasi pertanian dalam bentuk pinjaman. Berkaca pada kondisi ekonomi petani Indonesia maka hanya petani kelas menengah ke atas sajalah yang mampu membeli mesin pertanian ini secara perseorangan. Tetapi melihat dari efisiensi penggunaan, terutama jika di Indonesia peralihan musim tanam cukup renggang, maka bisa diusulkan untuk pengadaan mesin di setiap kelompok tani yang ada. Dengan kepemilikan bersama di satu kelompok tani, maka penggunaanya bisa dibagi bergiliran.

Dengan cara ini maka mekanisasi pertanian di Indonesia akan dapat dicapai. Salah satu dampak positif dari adanya mekanisasi pertanian ini ialah, pemerintah akan mampu mengubah wajah pertanian yang hingga saat ini masih kerja fisik yang keras dan memakan waktu menjadi pekerjaan ringan yang dilakukan dengan mesin dan memberikan hasil yang melimpah. Ini bukan tidak mungkin dapat memunculkan image “petani berdasi” yang tidak lain akan menstimulus para pemuda untuk ikut terjun dalam dunia pertanian.

Jika mekanisasi pertanian ini benar-benar dapat kita capai dalam waktu dekat, maka perkembangan pertanian di Indonesia akan sangat pesat. Dengan bekal tanah pertanian yang luas dan subur, kemudian didukung oleh teknologi pertanian yang tepat guna, produksi bahan pangan akan meningkat. Dalam skala besar, mekanisasi pertanian akan mampu mewujudkan kedaulatan pangan di tahun 2024. 

  1. Supriyati. Analisis Kebijakan Pertanian, 2010.
  2. Global food security index (http://foodsecurityindex.eiu.com/), 2016.
  3. https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1268.
  4. https://www.spi.or.id/visi-kedaulatan-pangan-indonesia-2014-2024/.
  5. Morioka Mitsuo, 1976, Mechanization of Agricultural Work in Japan from an Ergonomic Point of View, International Symposium on Impacts of Industrialization and Ergonomics in Asia, Tokyo.
  6. Oshiro K. Kenji, 1985, Mechanization of Rice Production in Japan, Clark University, Worcester.
  7. Dabukke FBM dan Iqbal M. (Analisis Kebijakan Pertanian, 2014).
  8. Biggs S dan Justice S. (International Food Policy Research Institute, 2015).

Kajian Strategis PPI Jepang, 2016-2017