//
Umum

Hari Kusta Sedunia : Tingginya jumlah penderita kusta Indonesia

31 January 2017 Oleh administrator

Hari kusta sedunia atau World Leprosy Day diperingati setiap tahun akhir bulan Januari yaitu pada tanggal 29 Januari 2017. Peringatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, meningkatan motivasi, mengubah pandangan maupun menghilangkan stigma negatif bahwa penderita kusta dan Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) juga memerlukan perhatian seluruh masyarakat.

Penyakit kusta atau lepra atau Hansen adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas, serta mata (kecuali otak) yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Kusta merupakan salah satu penyakit tertua di dunia yang hingga saat ini masih menjangkit pada jutaan orang di seluruh dunia. Bakteri penyebab kusta ini ditemukan oleh seorang ilmuwan bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen berasal dari Norwegia pada tahun 1873.

(Sumber : WHO, 2013)

Menurut World Health Organization (WHO), Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penderita penyakit kusta yang tinggi sebanyak 16.856 kasus sehingga Indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah India (134.752 kasus) dan Brazil (33.303 kasus) pada tahun 2013. Sedangkan menurut Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, angka prevalensi penderita kusta di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 0,78 per 10.000 penduduk, sehingga jumlah penderita yang terdaftar sekitar 20.160 kasus. Ada 14 provinsi di Indonesia yang prevalensinya di atas 1 per 10.000 yaitu Banten, Sulawesi Tengah, Aceh, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat dan Kalimantan Utara.

(Sumber : Ditjen P2P, Kemenkes RI, 2016)

Untuk program eliminasi kusta itu sendiri, pemerintah telah membuat program Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan tahun 2015-2019 yang merupakan bagian dari RPJMN 2015-2019. Salah satu sasaran strategis untuk meningkatkan pengendalian penyakit pada akhir tahun 2019 adalah jumlah provinsi dengan eliminasi kusta sebanyak 34 provinsi dari status awal sebanyak 20 provinsi pada tahun 2013. Strategi yang dilakukan dalam pengendalian penyakit kusta dengan cara intensifikasi penemuan kasus kusta di 14 provinsi (prevalensi > 1 per 10.000) dan 147 kabupaten/kota.

Walaupun pemerintah telah membuatkan program tersebut, kita tidak bisa mengandalkan pemerintah seutuhnya tetapi masyarakat harus memiliki peran aktif dalam permasalahan ini yaitu salah satunya tidak mengucilkan penderita kusta. Stigma dan diskriminasi dapaat menghambat penemuan kasus kusta secara dini, pengobatan pada penderita, dan penanganan medis yang dialami oleh penderita maupun OYPMK. Penyakit kusta dapat disembuhkan tanpa cacat apabila penderita ditemukan dan diobati secara dini. Tetapi seringkali penyakit kusta ditemukan dalam keadaan terlambat dan sudah dalam keadaan cacat yang terlihat Sehingga dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat dari penderita maupun masyarakat dalam upaya menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap masalah ini. Oleh karena itu, perlunya sosialisasi secara berkelanjutan agar masyarakat sadar akan kusta yaitu melakukan deteksi dini kusta dan berpartisipasi dalam penanggulangan kusta di masyarakat.

 

Referensi

[1] Republik Indonesia. 2015. Keputusan  Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tentang Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2015-2019. Sekretariat Negara. Jakarta. [dalam jaringan] tersedia di:   

http://www.depkes.go.id/resources/download/LAKIP%20ROREN/1%20perencanaan%20kinerja/Rencana%20Aksi%20Program%20PPPL.pdf (diakses pada : minggu 29  Januari 2017)

[2] “Kemenkes: Penyakit Kusta Masih Tinggi di 14 Provinsi” [dalam jaringan] tersedia di: http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150116142635-20-25156/kemenkes-penyakit-kusta-masih-tinggi-di-14-provinsi/  (diakses pada: Minggu 29 Januari 2017)

[3] WHO | The Weekly Epidemiological Record (WER) Vol. 2014, No. 36, 2014, 89, 389-400. [dalam jaringan] tersedia di: http://www.who.int/wer/2014/wer8936.pdf  (diakses pada: Minggu 29 Januari 2017)

[4] Depkes RI. 2015. Profil Kesehatan Indonesia. Depkes RI. Jakarta. [dalam jaringan] tersedia di: http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2015.pdf (diakses pada : minggu 29  Januari 2017)

 

Kajian strategis PPI Jepang 2016 2017