//
Acara

BNPT Beri Penyuluhan Terorisme di KBRI Tokyo

24 July 2017 Oleh administrator

Tokyo, 23 Juli 2017, anggota Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) bertamu ke KBRI Tokyo untuk memberi penyuluhan serta menghimbau warga Indonesia agar selalu berhati-hati akan ciri-ciri dan bahaya laten terorisme.

WNI Yang Hadir

Acara dimulai pukul 11 siang waktu setempat, dibuka langsung oleh Wakil Duta Besar, Dr. Ben Perkasa Drajat secara singkat. Lalu, Brigjen Marinir TNI Yuniar Ludfi selaku Direktur Perangkat Hukum Internasional BNPT segera memberikan ceramahnya mengenai terorisme dan berbagai macam bentuknya.

BNPT saat ini sedang bekerjasama bersama dengan 32 lembaga kementerian demi melindungi masyarakat Indonesia dari ancaman terorisme. “Terorisme adalah musuh bersama, maka bantuan dari segala lapisan masyarakat sangat penting demi memerangi terorisme” ujar Yuniar. Dikemukakan juga bahwa dimasa kini, cara perekrutan anggota baru oleh jaringan teroris dilakukan lebih masif dan lebih ganas, berbeda dengan cara yang terdahulu.

Brigjen Yuniar Ludfi Berbicara Di Hadapan Hadirin

Dahulu, perekrutan teroris dlaksanakan dengan lebih selektif dan penuh kehati-hatian. Umumnya pesantren dijadikan sarana cuci otak untuk merekrut kader-kader. Sehabis sebuah ceramah, biasanya para perekrut akan memilah, mana yang kira-kira tertarik untuk bergabung, lalu para korban akan dicuci otaknya agar mau mengikuti setiap perintah. Namun sekarang, cara perekrutan sudah berubah. Menggunakan kecanggihan internet dan jaringan sosial media, rekrutmen dapat dilakukan semudah menyentuhkan jari pada layar. Hanya dengan mengetik pesan singkat, dan menyebarluaskannya, dengan mudah anggota baru akan bertambah. Oleh karena itu, siapapun dapat dengan mudah terjaring, terlepas dari pengecualian apapun. Pada salah satu kasus, bahkan pejabat setingkat eselon dua pun sempat terlacak BNPT dan terindikasi menjadi radikal akibat masifnya informasi yang mengalir di dunia maya.

Brigjen Dadang Memberikan Contoh

Sesi bicara kemudian dilanjutkan oleh Brigjen Dadang Hendrayudha selaku Kepala Biro Umum BNPT. Kali ini juga kembali diungkapkan tentang peran media sosial dalam masifnya jaringan terorisme. Selain ditemukan masifnya ajakan berjihad yang keliru seperti bom bunuh diri dan mengkafirkan orang lain, seringkali dapat ditemukan juga informasi-informasi yang tidak pantas bagi khalayak umum semisal cara membuat bom panci, cara melakukan bom bunuh diri, dan sebagainya.

Sesuai dengan zaman yang berubah, ada beberapa tantangan terorisme Indonesia di masa mendatang. Penjaringan terorisme yang dilakukan secara daring akan menghasilkan kader-kader yang tidak professional pula, oleh karena itu diperkirakan ke depannya akan ditemukan aksi-aksi terorisme yang dilaksanakan sendirian dan terkesan serampangan dan nekat. Kemudian, selain menjaring pria paruh baya, para perempuan dan anak-anak juga mulai dijadikan tujuan penjaringan. Oleh karena itu perlu perhatian khusus kepada wanita, dan juga khususnya anak-anak yang seharusnya dididik dengan pantas. Terakhir adalah, kembalinya kader-kader dari luar Indonesia. Contoh kasus yang sedang panas-panasnya belakangan ini adalah satu keluarga Warga Negara Indonesia (WNI) yang berangkat ke Suriah lalu ingin kembali ke Indonesia karena merasa tertipu oleh The Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). BNPT dan pemerintah akan memberi perhatian khusus bagi kasus-kasus seperti ini. Kekacauan di Marawi, Filipina juga akan lebih diperhatikan karena terindikasi beberapa teroris merupakan WNI yang juga nantinya akan kembali ke tanah air.

Tidak ketinggalan, sebagai langkah pencatatan, pelayanan, dan perlindungan WNI di Jepang, KBRI Tokyo belum lama ini meluncurkan Sakura Indonesia. Tiap WNI di Jepang diwajibkan mengisi data diri melalui www.sakuraindonesia.jp yang nantinya akan memudahkan KBRI Tokyo untuk memberikan pelayanan maupun bantuan bagi yang membutuhkan. Tinggal mengisi nama sesuai paspor dan masukan nomor paspor, lalu ikuti perintah di layar dan lengkapi data diri anda, maka anda telah membantu KBRI Tokyo untuk dapat melayani anda dengan lebih maksimal.

Lewat Sakura Indonesia, KBRI Tokyo berharap untuk dapat memberikan layanan yang lebih maksimal dan juga melindungi setiap WNI di Negeri Sakura dari ancaman terorisme. Namun tidak lupa, kita juga harus melindungi diri sendiri dan juga orang sekitar agar tidak terjerat terorisme. Jangan dengan mudahnya termakan omongan di media sosial dan berpikiranlah secara terbuka demi menciptakan kondisi yang kondusif.

(Red. Theodorus Alvin)